Pelitanusantara.com Di tanah yang diselimuti kabut pegunungan dan dialiri sungai-sungai yang setia menghidupi peradaban, berdirilah dahulu sebuah kerajaan tua: Kerajaan Tarumanegara. Ia bukan sekadar kekuasaan, melainkan cerminan hidup masyarakat Sunda pada masa lampau—yang menempatkan keseimbangan sebagai inti kehidupan.
Dalam kearifan lokal Sunda dikenal prinsip menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kekuasaan. Nilai-nilai ini tercermin dalam berbagai tradisi lisan dan praktik budaya masyarakat Sunda yang masih bertahan hingga kini (Ekadjati, 2005).
Saat Kekuasaan Kehilangan Pusatnya
Sepeninggal Raja Linggawarman sekitar abad ke-7 Masehi, Tarumanegara memasuki fase perubahan. Berdasarkan sumber-sumber tradisional seperti Carita Parahyangan, disebutkan bahwa terjadi peralihan kekuasaan kepada Tarusbawa, menantu raja terakhir tersebut (Atja & Saleh Danasasmita, 1981).
Tarusbawa kemudian memperkenalkan identitas baru dengan nama Kerajaan Sunda. Para sejarawan melihat hal ini sebagai bentuk transformasi politik, bukan sekadar pergantian nama, melainkan pergeseran pusat kekuasaan (Slamet Muljana, 2006).
Galuh dan Dinamika Kekuasaan Regional
Di wilayah timur, muncul kekuatan baru yang dipimpin oleh Wretikandayun. Dalam naskah Carita Parahyangan, ia disebut sebagai pendiri Kerajaan Galuh yang memiliki hubungan genealogis dengan penguasa sebelumnya (Atja & Danasasmita, 1981).
Seiring melemahnya pusat kekuasaan Tarumanegara, Galuh berkembang menjadi entitas politik yang semakin mandiri. Hal ini sejalan dengan pola umum dalam sejarah kerajaan-kerajaan awal di Nusantara, di mana wilayah bawahan sering berkembang menjadi kekuatan independen (Muljana, 2006).
Pembagian Wilayah: Jalan Damai dalam Sejarah
Untuk menghindari konflik terbuka, Tarusbawa mengambil keputusan kompromi dengan membagi wilayah kekuasaan. Sunda berada di bagian barat, sementara Galuh berdiri di bagian timur.
Sungai Citarum disebut dalam berbagai kajian sebagai batas geografis penting di wilayah Jawa Barat, yang secara alami memisahkan kawasan tersebut (Ekadjati, 2005).
Peristiwa ini sering dipahami sebagai berakhirnya Tarumanegara, meskipun dalam kajian modern lebih tepat disebut sebagai proses transformasi politik.
Tinjauan Sejarah: Antara Fakta dan Tradisi
Sumber utama mengenai periode ini berasal dari kombinasi:
- Prasasti Tarumanegara seperti Prasasti Tugu, Ciaruteun, dan Kebon Kopi yang menunjukkan eksistensi kerajaan (Coedès, 1968)
- Naskah Carita Parahyangan sebagai sumber tradisional Sunda
- Naskah Wangsakerta, yang masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi
- Kajian modern oleh sejarawan Indonesia dan asing
Para ahli sepakat bahwa keterbatasan sumber membuat periode ini harus dipahami secara kritis, dengan memadukan pendekatan arkeologi, filologi, dan historiografi.
Makna Filosofis dalam Perspektif Budaya Sunda
Dalam perspektif budaya Sunda, peristiwa ini tidak hanya dilihat sebagai keruntuhan, tetapi sebagai bagian dari perubahan alami dalam kehidupan.
Nilai-nilai seperti harmoni, pengendalian diri, dan menghindari konflik tercermin dalam berbagai ungkapan dan praktik budaya masyarakat Sunda (Ekadjati, 2005).
Keputusan untuk menghindari perang dapat dipahami sebagai bentuk kebijaksanaan yang sejalan dengan prinsip menjaga keseimbangan kehidupan.
Warisan Sejarah dan Kearifan Lokal
Tarumanegara mungkin tidak lagi berdiri sebagai kerajaan, tetapi warisan nilai dan budayanya tetap hidup dalam perjalanan sejarah Sunda dan Galuh.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa dalam sejarah, kekuatan tidak selalu diukur dari kemenangan dalam peperangan, tetapi juga dari kemampuan menjaga kehidupan dan harmoni.
Disadur oleh: Kefas
Dari berbagai sumber
Daftar Referensi
- Atja & Saleh Danasasmita. 1981. Carita Parahyangan. Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat
- Coedès, George. 1968. The Indianized States of Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press
- Ekadjati, Edi S. 2005. Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah. Jakarta: Pustaka Jaya
- Muljana, Slamet. 2006. Sriwijaya. Yogyakarta: LKiS
- Purbatjaraka. 1952. Riwayat Indonesia I. Jakarta: Penerbit Djambatan













