Aliansi Masyarakat Peduli Kutai Barat Sampaikan Penolakan terhadap Kehadiran UAS di Acara Milad Ponpes Assalam
Kutai Barat – Pelita Nusantara – Polemik rencana kehadiran Ustaz Abdul Somad (UAS) dalam agenda Tasyakuran Milad ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning, Barong Tongkok, mulai memunculkan beragam tanggapan di tengah masyarakat Kutai Barat. Salah satunya datang dari Aliansi Masyarakat Peduli Kutai Barat yang secara terbuka menyampaikan sikap penolakan terhadap kehadiran dai nasional tersebut.
Pernyataan sikap itu disampaikan Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Kutai Barat, Yehezkiel Pomen, saat memberikan keterangan kepada Media Pelita Nusantara, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Yehezkiel, aliansi yang terdiri dari berbagai organisasi
1. Gerdayak
2.komando
3. Laskar Gерак
5. Karang Taruna Sekolaq darat
6. Pungawa pung gading
7. macandahan
8. Layung kuning
9. Habama.
10.gepak ,tokoh pemuda kubar, dan elemen masyarakat lainnya pada prinsipnya tidak mempermasalahkan pelaksanaan kegiatan milad pondok pesantren. Bahkan, mereka menyatakan dukungan terhadap perayaan hari jadi lembaga pendidikan keagamaan tersebut.
Namun demikian, aliansi menilai kehadiran Ustaz Abdul Somad berpotensi memunculkan dinamika sosial yang dapat mengganggu kondusivitas daerah apabila tidak disikapi secara bijaksana oleh seluruh pihak.
“Kami mendukung kegiatan milad Pondok Pesantren Assalam sebagai bagian dari kegiatan keagamaan. Tetapi kami menilai kehadiran Abdul Somad dalam acara tersebut berpotensi menimbulkan keresahan dan dapat memengaruhi suasana kerukunan yang selama ini terjaga di Kutai Barat,” ujar Yehezkiel.
Atas dasar itu, aliansi meminta Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, aparat keamanan, dan instansi terkait untuk mempertimbangkan kembali rencana kedatangan penceramah tersebut.
Mereka juga mengimbau panitia pelaksana agar tidak memaksakan agenda yang dinilai berpotensi menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagai alternatif, aliansi menyarankan agar panitia menghadirkan penceramah lain yang dianggap lebih dapat diterima oleh seluruh kalangan.
Dalam keterangannya, Yehezkiel menegaskan bahwa sikap yang mereka sampaikan bukan merupakan bentuk penolakan terhadap kegiatan keagamaan maupun perbedaan keyakinan. Sebaliknya, mereka mengaku ingin menjaga semangat toleransi dan keharmonisan yang selama ini menjadi ciri kehidupan masyarakat Kutai Barat.
“Kutai Barat dibangun di atas keberagaman. Karena itu kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan, keamanan, dan kenyamanan masyarakat dari berbagai latar belakang,” katanya.
Aliansi juga menegaskan akan terus mengawal aspirasi yang mereka sampaikan kepada pemerintah dan pihak penyelenggara. Mereka berharap seluruh pihak dapat mengedepankan dialog serta mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat sebelum mengambil keputusan terkait pelaksanaan kegiatan tersebut.
Pernyataan sikap itu diketahui didukung oleh sejumlah organisasi dan kelompok masyarakat, di antaranya Gerdayak, Komando, Laskar Gerak, Karang Taruna Sekolaq Darat, Pungawa Pung Gading, Macandahan, Layung Kuning, Habama, serta sejumlah tokoh pemuda Kutai Barat.
Sementara itu, hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari panitia penyelenggara maupun pihak Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning terkait sikap yang disampaikan oleh Aliansi Masyarakat Peduli Kutai Barat.













