KETIKA WARTAWAN ITU SENDIRI SEDANG BERJUANG: Antara Ruang Redaksi, Ruang Perawatan, dan Tanggung Jawab yang Tak Pernah Selesai

File 0000000075907207bd086fd91aafd782
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

KETIKA WARTAWAN ITU SENDIRI SEDANG BERJUANG: Antara Ruang Redaksi, Ruang Perawatan, dan Tanggung Jawab yang Tak Pernah Selesai

Jam menunjukkan pukul 01.37 dini hari.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Redaksi sudah lama sepi.

Berita terakhir sudah tayang.

Notifikasi media sosial mulai berkurang.

Para pembaca mungkin sudah terlelap setelah membaca berbagai informasi yang kami sajikan sepanjang hari.

Tetapi bagi saya, malam belum benar-benar berakhir.

Saya masih duduk sendiri di depan laptop yang cahayanya menerangi ruang kontrakan sederhana yang sekaligus menjadi ruang kerja, ruang redaksi, dan ruang tempat saya menyimpan begitu banyak kegelisahan.

Di kamar sebelah, istri dan anak-anak sudah tertidur.

Mereka tidak tahu bahwa malam itu saya kembali duduk diam cukup lama menatap layar ponsel.

Bukan karena sedang membaca berita.

Bukan karena sedang mengejar narasumber.

Tetapi karena sedang menghitung sisa kemampuan untuk bertahan.

Sebagai seorang jurnalis media online independen, saya terbiasa menulis tentang penderitaan orang lain.

Saya menulis tentang warga kecil yang kesulitan mendapatkan keadilan.

Saya menulis tentang keluarga yang berjuang melawan kemiskinan.

Saya menulis tentang pasien yang berharap sembuh dari penyakitnya.

Saya menulis tentang orang-orang yang sedang memperjuangkan hidup mereka.

Namun ada satu kisah yang selama ini jarang saya tuliskan.

Kisah tentang wartawan yang menulis semua cerita itu.

Kisah tentang dirinya sendiri.

Tidak banyak yang tahu bahwa beberapa tahun terakhir saya hidup berdampingan dengan kondisi kesehatan yang mengharuskan pengawasan dan perawatan medis secara rutin.

Setiap bulan saya harus datang ke salah satu rumah sakit daerah.

Bukan sekali.

Bukan untuk satu pemeriksaan.

Tetapi harus berpindah dari satu poli ke poli lainnya untuk menjalani kontrol dengan tiga dokter spesialis yang berbeda.

Di ruang tunggu rumah sakit itu saya sering duduk berjam-jam.

Melihat nomor antrean berjalan perlahan.

Mendengar berbagai keluhan pasien lain.

Membaca hasil pemeriksaan.

Mendengarkan penjelasan dokter.

Dan diam-diam berdoa agar kondisi kesehatan saya tetap cukup baik untuk kembali bekerja esok hari.

Sebab setelah keluar dari rumah sakit, kehidupan tidak berhenti menunggu.

Masih ada berita yang harus ditulis.

Masih ada narasumber yang harus ditemui.

Masih ada keluarga yang harus dinafkahi.

Masih ada media yang harus dipertahankan agar tetap hidup.

Ada kalanya saya keluar dari ruang praktik dokter lalu langsung menuju lokasi peliputan.

Ada kalanya tubuh terasa lemah tetapi berita tetap harus selesai sebelum tenggat waktu.

Ada kalanya rasa sakit harus disimpan sendiri karena tidak semua orang memahami apa yang sedang diperjuangkan.

Mungkin inilah ironi terbesar dalam hidup seorang wartawan.

Kami terbiasa mendengar keluhan semua orang.

Tetapi sering kali menyembunyikan luka kami sendiri.

Kami terbiasa bertanya kepada banyak orang.

Tetapi jarang ada yang bertanya bagaimana keadaan kami sesungguhnya.

Kami terbiasa memperjuangkan suara masyarakat.

Tetapi sering kali tidak memiliki ruang untuk menyuarakan kelelahan kami sendiri.

Yang lebih berat bukanlah penyakit itu.

Yang lebih berat adalah kecemasan yang datang bersamanya.

Kecemasan ketika jadwal kontrol berikutnya semakin dekat.

Kecemasan ketika biaya pengobatan harus bertemu dengan kebutuhan sekolah anak.

Kecemasan ketika tagihan listrik, biaya rumah tangga, operasional media, dan kebutuhan kesehatan datang pada waktu yang bersamaan.

Dan di tengah semua itu, saya tetap harus tersenyum ketika mewawancarai narasumber.

Tetap terlihat kuat ketika menghadiri acara.

Tetap profesional ketika menulis berita.

Karena dunia jurnalistik tidak pernah mengenal alasan.

Berita harus tetap tayang.

Fakta harus tetap disampaikan.

Kebenaran harus tetap diperjuangkan.

Malam itu saya kembali bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah semua perjuangan ini akan ada akhirnya?”

Lalu saya teringat wajah anak-anak yang sedang tertidur.

Saya teringat istri yang selama ini setia mendampingi dalam segala keterbatasan.

Saya teringat para pembaca yang masih mempercayai media kami.

Saya teringat masyarakat kecil yang sering kali hanya memiliki media independen sebagai tempat terakhir menyampaikan suara mereka.

Dan saya sadar.

Saya mungkin sedang sakit.

Saya mungkin sedang lelah.

Saya mungkin sedang menghadapi keterbatasan yang tidak ringan.

Tetapi saya tidak boleh berhenti.

Karena ada begitu banyak harapan yang bergantung pada setiap langkah yang masih mampu saya ambil.

Hari ini saya tidak meminta belas kasihan.

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa di balik setiap berita yang dibaca masyarakat, ada manusia yang menuliskannya.

Ada seorang ayah yang sedang memikirkan masa depan anak-anaknya.

Ada seorang suami yang sedang berjuang menjaga keluarganya.

Ada seorang pasien yang setiap bulan harus kembali ke rumah sakit untuk memastikan kesehatannya tetap terjaga.

Ada seorang jurnalis yang diam-diam sedang berjuang melawan rasa sakit, kecemasan, dan keterbatasan hidupnya sendiri.

Namun esok pagi, ketika matahari kembali terbit, saya tahu saya akan kembali membuka laptop itu.

Saya akan kembali menulis.

Saya akan kembali turun ke lapangan.

Saya akan kembali mengejar fakta dan menyampaikan kebenaran.

Bukan karena hidup saya mudah.

Tetapi karena saya percaya bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari keadaan yang nyaman.

Kadang pengabdian justru lahir dari air mata yang disembunyikan, dari rasa sakit yang dipendam, dan dari keberanian untuk tetap berjalan ketika tubuh dan keadaan berkata sebaliknya.

Dan jika suatu hari nanti perjalanan ini harus dikenang, saya tidak ingin dikenang karena berapa banyak berita yang pernah saya tulis.

Saya ingin dikenang sebagai seorang jurnalis yang tetap memilih bertahan.

Tetap memilih melayani.

Tetap memilih memperjuangkan kebenaran.

Bahkan ketika dirinya sendiri sedang berjuang untuk bertahan hidup.

Karena sesungguhnya, berita yang paling berat untuk ditulis seorang wartawan adalah kisah tentang perjuangannya sendiri.