PARTAI SETARA (PAS): Ketika Kesetaraan Menjadi Jalan Pulang Demokrasi Indonesia

Kefaspelita
IMG 20260625 WA0091
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

PARTAI SETARA (PAS): Ketika Kesetaraan Menjadi Jalan Pulang Demokrasi Indonesia

Oleh: Kefas Hervin Devananda

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

“Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang berhasil menciptakan banyak partai politik, melainkan bangsa yang mampu menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyatnya.”

Delapan puluh tahun lebih Indonesia menikmati kemerdekaan. Dalam rentang waktu itu, republik ini telah melewati berbagai fase sejarah: pergantian rezim, reformasi politik, desentralisasi kekuasaan, hingga era demokrasi yang semakin terbuka. Kita telah berkali-kali melaksanakan pemilu yang demokratis, melahirkan ratusan kepala daerah, ribuan anggota legislatif, dan silih berganti pemerintahan nasional.

Namun di balik semua capaian itu, ada satu pertanyaan yang terus mengusik nurani saya sebagai seorang jurnalis: apakah demokrasi kita benar-benar telah menghadirkan rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia?

Demokrasi tidak boleh hanya berhenti pada rutinitas lima tahunan yang bernama pemilu. Demokrasi seharusnya menghadirkan rasa aman bagi setiap warga negara, memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh anak bangsa untuk berkembang, menjamin kepastian hukum tanpa pandang bulu, serta memastikan bahwa negara hadir bukan hanya untuk mereka yang memiliki kekuasaan atau akses politik, melainkan juga bagi rakyat kecil yang sering kali hanya menjadi penonton dalam panggung demokrasi.

Hari ini, saya melihat demokrasi Indonesia sedang menghadapi ujian yang tidak ringan. Polarisasi politik yang tajam telah meninggalkan luka sosial di tengah masyarakat. Politik identitas masih kerap dijadikan instrumen mobilisasi dukungan. Ruang dialog sering tergantikan oleh saling curiga. Perbedaan pandangan politik tidak jarang berkembang menjadi permusuhan yang menggerus persaudaraan kebangsaan.

Di sisi lain, masyarakat semakin kritis. Mereka tidak lagi mudah percaya pada slogan atau janji politik. Rakyat mulai bertanya: di mana keadilan itu? Mengapa hukum terkadang terasa tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas? Mengapa masih ada kesenjangan yang begitu lebar antara pusat dan daerah, antara kota dan desa, antara mereka yang memiliki akses terhadap kekuasaan dan mereka yang hanya memiliki harapan?

Sebagai seorang jurnalis, saya menyadari bahwa tidak semua persoalan bangsa dapat diselesaikan oleh satu partai politik atau satu pemimpin. Namun saya juga percaya bahwa setiap perubahan besar selalu dimulai dari keberanian menghadirkan gagasan baru. Bangsa yang berhenti melahirkan gagasan adalah bangsa yang perlahan kehilangan arah.

Karena itulah, saya memandang kemunculan Partai Setara (PAS) sebagai sebuah fenomena politik yang menarik untuk dicermati. Bukan semata-mata karena lahirnya sebuah partai baru, tetapi karena gagasan utama yang diusungnya: kesetaraan.

Menurut saya, selama ini kita terlalu sering berbicara tentang toleransi. Padahal toleransi memiliki keterbatasan. Toleransi sering bergantung pada kemurahan hati pihak yang merasa lebih kuat terhadap pihak yang dianggap lebih lemah. Toleransi bisa berubah mengikuti situasi politik, kepentingan, bahkan emosi.

Sebaliknya, kesetaraan berdiri di atas fondasi konstitusi. Kesetaraan menegaskan bahwa tidak ada warga negara kelas satu maupun kelas dua. Tidak ada hak yang lebih tinggi hanya karena jumlah, jabatan, kekuasaan, latar belakang ekonomi, suku, agama, ataupun identitas politik. Di hadapan hukum, di hadapan negara, dan di hadapan konstitusi, seluruh rakyat Indonesia memiliki martabat yang sama.

Inilah yang menurut saya menjadi pembeda gagasan PAS.

https://youtube.com/shorts/JV5hMF8ml2U?si=TxQq3WRB6MUoe48W

Yang menarik lagi, PAS tidak dikabarkan lahir hanya dari ruang-ruang elite politik. Partai ini digagas oleh rohaniawan, wartawan-wartawan senior, aktivis sosial, buruh, petani, mahasiswa, akademisi, profesional, serta anak-anak muda. Bagi saya, komposisi ini memiliki makna simbolik yang kuat. Indonesia tidak boleh hanya dibangun oleh elite politik semata. Republik ini dibangun oleh petani yang menanam pangan, buruh yang menggerakkan industri, wartawan yang menjaga nurani demokrasi, rohaniawan yang merawat moral bangsa, mahasiswa yang menghidupkan idealisme, dan generasi muda yang akan mewarisi masa depan Indonesia.

Tentu, saya memahami bahwa idealisme selalu diuji ketika berhadapan dengan kekuasaan. Sejarah politik Indonesia mengajarkan bahwa tidak sedikit partai yang lahir dengan semangat perubahan, tetapi perlahan kehilangan jati dirinya ketika kekuasaan menjadi tujuan, bukan lagi alat pengabdian. Karena itu, PAS pun akan menghadapi ujian yang sama. Rakyat tidak akan menilai dari manifesto yang indah atau pidato yang memukau, melainkan dari keberanian menjaga integritas, konsistensi terhadap nilai yang diperjuangkan, dan kesediaan mendengar suara rakyat ketika kekuasaan telah berada di tangan.

Indonesia sesungguhnya tidak sedang kekurangan orang pintar. Negeri ini juga tidak kekurangan sumber daya alam, tidak kekurangan pemimpin, bahkan tidak kekurangan partai politik. Yang masih terasa langka adalah keteladanan, integritas, keberanian moral, dan kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Di sinilah saya berharap PAS mampu menunjukkan jati dirinya. Jangan sekadar menjadi peserta pemilu, tetapi menjadi penggerak perubahan. Jangan hanya hadir untuk memperoleh kursi kekuasaan, tetapi hadir untuk mengembalikan makna politik sebagai jalan pengabdian. Jangan hanya berbicara tentang rakyat ketika kampanye, tetapi berjalan bersama rakyat ketika menghadapi kesulitan.

Saya percaya bahwa Indonesia membutuhkan politik yang lebih dewasa. Politik yang tidak membelah masyarakat menjadi kubu-kubu yang saling bermusuhan. Politik yang tidak menjadikan perbedaan sebagai senjata. Politik yang menjadikan Pancasila bukan sekadar teks yang dibaca setiap upacara, melainkan nilai yang dihidupi dalam setiap kebijakan dan tindakan.

Bagi saya, kesetaraan bukan hanya agenda politik. Kesetaraan adalah amanat konstitusi, jiwa Pancasila, dan roh Bhinneka Tunggal Ika. Selama masih ada warga negara yang merasa diperlakukan berbeda karena identitasnya, selama masih ada rakyat yang merasa negara belum sepenuhnya hadir melindungi hak-haknya, maka perjuangan menghadirkan kesetaraan belum selesai.

Apakah PAS kelak mampu menjawab harapan itu? Waktu dan rakyatlah yang akan memberikan jawabannya.

Namun satu hal yang saya yakini, Indonesia tidak membutuhkan semakin banyak politisi yang pandai berbicara. Indonesia membutuhkan lebih banyak negarawan yang berani bekerja, berani mendengar, dan berani berdiri di atas kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Dan apabila Partai Setara (PAS) mampu menjaga idealisme para pendirinya, tetap setia kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, serta menjadikan kesetaraan sebagai napas perjuangannya, maka PAS tidak hanya berpeluang menjadi sebuah partai politik baru. PAS dapat menjadi pengingat bahwa demokrasi Indonesia masih memiliki ruang bagi lahirnya politik yang bermartabat—politik yang tidak bertanya, “Siapa kamu?”, melainkan, “Apa yang bisa kita perjuangkan bersama untuk Indonesia?”

Karena pada akhirnya, Merah Putih tidak pernah bertanya dari suku mana kita berasal, agama apa yang kita anut, profesi apa yang kita jalani, atau siapa yang kita pilih dalam pemilu. Merah Putih hanya meminta satu hal kepada seluruh anak bangsa: jagalah Indonesia dengan keadilan, persatuan, dan pengabdian. Sebab hanya bangsa yang mampu memperlakukan seluruh rakyatnya secara setara yang akan tetap berdiri tegak menghadapi zaman. Dan mungkin, dari sanalah sejarah baru politik Indonesia akan dimulai.