NEGERI PARA AHLI PINDAH HALUAN
Oleh: Redaksi
Konon, dahulu kala para pelaut menentukan arah dengan melihat bintang. Mereka percaya bahwa langit memiliki kejujuran yang tidak dimiliki manusia. Bintang tidak pernah berpura-pura berada di utara jika sebenarnya berada di selatan.
Namun di zaman politik modern, kompas tampaknya telah menemukan fungsi baru.
Ia bukan lagi alat penunjuk arah.
Ia menjadi alat penyesuai arah.
Arah mana yang sedang menguntungkan, ke sanalah jarumnya bergerak.
Anekdot ini mungkin terdengar berlebihan. Tetapi siapa pun yang mengikuti perkembangan politik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir pasti memahami mengapa banyak orang tersenyum ketika mendengarnya.
Di republik ini, perubahan sikap politik kadang berlangsung lebih cepat daripada perubahan cuaca. Yang kemarin berseberangan bisa mendadak bersandingan. Yang kemarin mengkritik bisa tiba-tiba memuji. Yang kemarin mengaku berbeda ternyata menemukan banyak kesamaan ketika pintu kekuasaan terbuka sedikit lebih lebar.
Tentu tidak ada yang salah dengan rekonsiliasi.
Yang menjadi persoalan adalah ketika publik mulai kesulitan membedakan mana perubahan karena prinsip dan mana perubahan karena peluang.
Demokrasi memang mengajarkan kompromi. Namun kompromi yang terlalu sering terjadi tanpa penjelasan akhirnya melahirkan satu pertanyaan sederhana:
“Kalau semua bisa berubah begitu cepat, sebenarnya yang tetap apa?”
Pertanyaan itu penting.
Sebab rakyat tidak memilih hanya karena wajah, logo, atau warna bendera. Setidaknya tidak seharusnya begitu. Rakyat memilih karena percaya ada gagasan yang diperjuangkan. Ada nilai yang dipertahankan. Ada janji yang akan diusahakan.
Namun belakangan, politik lebih sering terlihat seperti bursa transfer pemain menjelang musim kompetisi.
Bedanya, dalam sepak bola, pemain yang pindah klub biasanya mencium lambang klub baru setelah kontrak ditandatangani.
Dalam politik, kadang-kadang lambang lama belum sempat dilipat, lambang baru sudah dipeluk dengan penuh perasaan.
Mungkin itulah sebabnya rakyat semakin sulit terkesan oleh pidato-pidato heroik.
Mereka sudah terlalu sering melihat kata “perjuangan” digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang lebih mirip negosiasi.
Mereka terlalu sering mendengar istilah “demi rakyat” muncul tepat ketika pembicaraan tentang jabatan sedang berlangsung.
Dan mereka terlalu sering menyaksikan bagaimana idealisme yang dulu terdengar gagah akhirnya berakhir sebagai catatan kaki dalam perjanjian politik.
Padahal sesungguhnya rakyat tidak menuntut kesempurnaan.
Mereka tidak meminta politisi menjadi malaikat.
Mereka hanya berharap ada sedikit hubungan antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan.
Sayangnya, hubungan itu kini sering berada dalam status yang rumit.
Tidak putus.
Tetapi juga tidak jelas.
Akibatnya, politik Indonesia hari ini menghadapi masalah yang lebih serius daripada sekadar persaingan antarpartai.
Masalah terbesarnya adalah menipisnya kepercayaan.
Banyak partai berbicara tentang kemenangan.
Banyak tokoh berbicara tentang masa depan.
Banyak strategi disusun untuk memenangkan hati rakyat.
Namun jauh di bawah semua hiruk-pikuk itu, ada pertanyaan yang belum benar-benar dijawab:
Mengapa rakyat semakin sulit percaya?
Jawabannya mungkin sederhana.
Karena kepercayaan tidak dibangun oleh baliho.
Ia tidak tumbuh dari slogan.
Ia tidak lahir dari tagar yang sedang trending.
Kepercayaan lahir ketika masyarakat melihat konsistensi.
Ketika janji tidak berubah menjadi alasan.
Ketika kritik tidak berubah menjadi pujian hanya karena posisi.
Ketika prinsip tidak berpindah alamat setiap musim politik.
Ironisnya, di era yang dipenuhi konsultan politik, ahli strategi, survei elektabilitas, dan teknologi komunikasi yang semakin canggih, justru barang paling langka dalam politik adalah ketulusan.
Semua orang berbicara tentang citra.
Sedikit yang berbicara tentang karakter.
Semua sibuk mengelola persepsi.
Sedikit yang sibuk mengelola integritas.
Padahal sejarah selalu menunjukkan satu hal.
Sebuah bangsa tidak kehilangan arah ketika partainya kalah dalam pemilu.
Sebuah bangsa kehilangan arah ketika rakyat berhenti percaya bahwa politik masih memiliki kompas moral.
Dan ketika itu terjadi, yang runtuh bukan hanya reputasi para politisi.
Yang runtuh adalah harapan bahwa demokrasi masih mampu menghadirkan perubahan yang nyata.
Mungkin karena itulah rakyat hari ini tidak lagi terlalu mudah terpesona oleh janji.
Mereka sedang menunggu sesuatu yang lebih sederhana.
Bukan pidato yang lebih panjang.
Bukan baliho yang lebih besar.
Bukan slogan yang lebih kreatif.
Melainkan bukti bahwa dalam dunia yang penuh dengan ahli pindah haluan, masih ada orang-orang yang tahu ke mana mereka berdiri, bahkan ketika tidak ada kursi yang menunggu di ujung jalan.













