SEBELUM WAKTU ITU DATANG Catatan Seorang Ayah, Seorang Jurnalis, dan Sebuah Kerinduan yang Belum Selesai
Pukul 02.37 dini hari.
Redaksi sudah sepi.
Berita terakhir telah tayang.
Notifikasi mulai berhenti berdatangan.
Istri dan anak-anak sudah lama tertidur.
Namun saya masih terjaga.
Duduk sendirian di depan laptop yang cahayanya menjadi satu-satunya penerang di ruangan kecil yang selama bertahun-tahun menjadi kantor, ruang redaksi, ruang kerja, sekaligus saksi dari begitu banyak pergumulan hidup yang tidak pernah diketahui orang lain.
Di atas meja terdapat tumpukan catatan liputan, hasil wawancara, beberapa lembar tagihan yang belum selesai dibayar, serta map berisi hasil pemeriksaan kesehatan dari rumah sakit.
Saya memandang semuanya dalam diam.
Kadang saya bertanya dalam hati, mengapa hidup harus mempertemukan begitu banyak perjuangan dalam waktu yang bersamaan?
Sebagai jurnalis media online independen, saya terbiasa menuliskan kisah orang lain.
Saya menulis tentang rakyat kecil yang mencari keadilan.
Saya menulis tentang keluarga yang berjuang melawan kemiskinan.
Saya menulis tentang pasien yang berharap sembuh dari penyakitnya.
Saya menulis tentang harapan, air mata, dan perjuangan hidup banyak orang.
Namun ada satu kisah yang selama ini jarang saya tulis.
Kisah tentang diri saya sendiri.
Tentang seorang ayah yang sedang berjuang melawan penyakit yang tak kunjung sembuh.
Tentang seorang kepala keluarga yang berusaha tetap terlihat kuat di tengah keterbatasan.
Dan tentang seorang jurnalis yang terus berjalan meskipun tubuhnya perlahan tidak lagi sekuat dahulu.
Beberapa tahun terakhir, hidup saya tidak lagi sama.
Setiap bulan saya harus datang ke salah satu rumah sakit daerah untuk menjalani kontrol rutin dengan tiga dokter spesialis yang berbeda.
Dari satu poli ke poli lainnya.
Dari satu ruang tunggu ke ruang tunggu berikutnya.
Membawa hasil laboratorium, hasil pemeriksaan, dan harapan yang sama.
Semoga kondisi kesehatan ini tetap stabil.
Semoga saya masih diberi kesempatan untuk bekerja.
Semoga saya masih memiliki waktu yang cukup.
Kadang saya duduk berjam-jam menunggu nomor antrean dipanggil.
Melihat wajah-wajah pasien lain yang sama-sama menyimpan kecemasan.
Di tempat itu saya belajar satu hal yang sangat berharga.
Bahwa di hadapan penyakit, manusia menjadi sama.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada kekuasaan.
Tidak ada kekayaan yang mampu membeli tambahan waktu kehidupan.
Semua orang hanya memiliki harapan.
Dan saya pun demikian.
Namun yang paling membuat saya takut bukanlah penyakit yang saya derita.
Bukan pula hasil pemeriksaan yang terkadang membuat hati menjadi gelisah.
Yang paling saya takutkan adalah waktu.
Karena waktu adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun.
Dan semakin sering saya keluar masuk rumah sakit, semakin saya menyadari bahwa hidup ini sesungguhnya sangat rapuh.
Di tengah segala keterbatasan itu, Tuhan menitipkan satu alasan terbesar mengapa saya masih terus bertahan.
Anak semata wayang saya.
Kini ia sedang menempuh pendidikan semester enam di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat.
Sudah hampir menjadi seorang sarjana.
Sudah mulai menata masa depannya sendiri.
Sudah mulai berdiri di atas kakinya sendiri.
Sebagai ayah, saya bangga.
Sangat bangga.
Namun di balik kebanggaan itu, tersimpan kerinduan yang tidak pernah berhenti tumbuh.
Kerinduan untuk melihatnya menyelesaikan kuliah.
Kerinduan untuk melihatnya mengenakan toga.
Kerinduan untuk melihatnya berdiri di atas panggung kelulusan sambil menerima ijazah yang selama ini diperjuangkan dengan kerja keras dan doa.
Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa.
Namun bagi seorang ayah yang setiap bulan harus bertemu dokter dan bergumul dengan penyakitnya sendiri, harapan itu menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Sering kali ketika duduk di ruang tunggu rumah sakit, pikiran saya melayang ke kampus tempat ia belajar.
Saya membayangkan dirinya sedang mengikuti perkuliahan.
Mengerjakan tugas.
Mengejar target akademik.
Menata impian.
Dan dalam hati saya berdoa diam-diam.
“Tuhan, izinkan saya melihat hari kelulusannya.”
Saya tidak meminta menjadi kaya.
Saya tidak meminta hidup tanpa masalah.
Saya tidak meminta umur panjang tanpa batas.
Saya hanya meminta satu hal.
Berikan saya kesempatan untuk menyaksikan anak saya menyelesaikan pendidikannya dan melangkah menuju masa depannya.
Karena sesungguhnya itulah kebahagiaan terbesar yang sedang saya tunggu.
Filosofi kehidupan mengajarkan bahwa pohon yang besar tidak pernah menikmati buahnya sendiri.
Sungai tidak pernah meminum airnya sendiri.
Matahari tidak pernah menikmati cahayanya sendiri.
Dan seorang ayah sering kali menghabiskan hidupnya untuk memastikan anaknya memiliki masa depan yang lebih baik daripada dirinya.
Mungkin itulah makna sejati dari kasih.
Kasih yang tidak menuntut balasan.
Kasih yang rela berkorban.
Kasih yang tetap bertahan meski tubuh mulai melemah.
Hari ini saya masih menulis berita.
Masih mengejar fakta.
Masih mengelola media yang saya bangun dengan segala keterbatasan.
Masih menjalani kontrol kesehatan setiap bulan.
Masih berjuang melawan penyakit yang belum juga pergi.
Namun selama masih ada napas yang Tuhan berikan, saya akan terus berjalan.
Karena saya percaya bahwa hidup bukan tentang seberapa lama seseorang hidup.
Melainkan tentang untuk siapa ia menghabiskan hidupnya.
Dan jika suatu hari nanti waktu benar-benar datang menjemput saya, saya berharap satu hal.
Semoga anak saya mengingat bahwa ayahnya mungkin bukan orang yang kaya.
Bukan orang yang terkenal.
Bukan orang yang memiliki segalanya.
Tetapi ayahnya adalah seseorang yang tidak pernah berhenti berjuang.
Berjuang melawan sakit.
Berjuang melawan keadaan.
Berjuang melawan keterbatasan.
Demi keluarga yang dicintainya.
Demi masa depan anak semata wayangnya.
Karena pada akhirnya, warisan terbesar seorang ayah bukanlah harta yang ditinggalkan.
Melainkan kasih, perjuangan, dan doa yang terus hidup bahkan ketika dirinya telah tiada.
Dan sampai hari itu tiba, saya akan tetap memanjatkan doa yang sama.
“Tuhan, izinkan saya melihat anak saya mengenakan toga kelulusannya.”
Sebab mungkin, di situlah seluruh perjuangan hidup seorang ayah menemukan maknanya.













