Sepiring Nasi dan Segunung Ironi
Hari ini negeri ramai berbicara tentang gizi.
Tentang protein, vitamin, susu, dan menu seimbang.
Tentang bagaimana anak-anak harus tumbuh sehat agar menjadi generasi emas.
Sebuah cita-cita yang mulia.
Namun di sudut lain negeri, rakyat bertanya dalam diam:
“Apakah cukup memberi makan anak-anak, sementara masa depan orang tuanya tetap kelaparan?”
Kita hidup di zaman yang aneh.
Ketika sepiring nasi menjadi berita utama,
tetapi harga kejujuran tak lagi punya nilai jual.
Ketika bantuan datang dengan kamera,
namun keadilan sering datang tanpa alamat.
Ketika rakyat diminta bersabar demi masa depan,
sementara sebagian elite tak pernah sabar menunggu giliran menikmati kekuasaan.
MBG mungkin mampu mengenyangkan perut anak bangsa.
Tetapi siapa yang akan mengenyangkan rasa haus akan keadilan?
Sebab bangsa ini sesungguhnya bukan sedang kekurangan makanan.
Bangsa ini sedang kekurangan keteladanan.
Yang langka bukan beras.
Yang langka adalah integritas.
Yang sulit dicari bukan lauk pauk.
Yang sulit dicari adalah pemimpin yang ucapannya lebih mahal daripada jabatannya.
Ironisnya, negeri ini seperti kapal besar yang sibuk mengecat dinding kabin,
sementara sebagian awak kapal pura-pura tidak melihat kebocoran di lambungnya.
Kita merayakan program-program baru,
tetapi lupa bertanya mengapa rakyat masih harus berjuang keras hanya untuk hidup sederhana.
Kita membangun dapur-dapur umum,
namun membiarkan dapur keadilan sering kali dingin dan tak berasap.
Filsafat kuno mengajarkan:
“Jika engkau ingin mengetahui masa depan sebuah bangsa, jangan lihat pidato para penguasanya. Lihatlah apakah hukum berani menyentuh orang yang berkuasa.”
Dan di situlah pertanyaan yang sering membuat banyak orang gelisah.
Mengapa rakyat kecil begitu mudah ditemukan ketika salah,
tetapi sebagian orang besar begitu sulit ditemukan ketika harus bertanggung jawab?
Hari ini anak-anak diajarkan pentingnya kejujuran.
Besok mereka akan tumbuh dewasa.
Lalu mereka akan bertanya:
“Mengapa buku pelajaran dan kenyataan hidup sering tidak saling mengenal?”
Mungkin saat itu kita tidak membutuhkan jawaban.
Karena kenyataan sudah berbicara lebih keras daripada pidato.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak pernah mencatat berapa banyak slogan yang diteriakkan.
Sejarah hanya mencatat dua hal:
Siapa yang sungguh melayani rakyat, dan siapa yang sekadar menjadikan rakyat sebagai panggung.
Dan bangsa ini tidak akan berubah hanya karena perut kenyang.
Bangsa ini akan berubah ketika orang-orang yang memegang kekuasaan kembali merasa malu saat mengkhianati amanat yang mereka makan setiap hari dari keringat rakyat.













