Imas Jamilah
Di matamu senja belajar tenang,
di senyummu malam kehilangan gelapnya.
Namamu, Imas Jamilah,
terdengar seperti doa
yang jatuh perlahan dari langit cinta.
Engkau bukan sekadar wanita,
kau adalah teduh di hati yang lelah,
seperti hujan pertama
yang menyentuh bumi dengan lembut
setelah musim panjang penuh rindu.
Auramu menyala tanpa meminta pujian,
anggunmu hadir tanpa harus bersuara.
Saat kau melangkah,
waktu seakan berhenti sejenak
hanya untuk mengagumi keindahanmu.
Imas Jamilah…
jika cinta adalah lautan,
maka tatapanmu adalah ombak
yang membuat hati rela tenggelam
tanpa ingin kembali ke tepian.
Dan bila dunia someday kehilangan cahaya,
aku percaya satu senyummu saja
cukup untuk membuat semesta
kembali jatuh cinta pada kehidupan.













