Pewarna Banten Dikukuhkan: Janji Warna Baru Jurnalisme di Tengah Tantangan Disrupsi dan Integritas

Kefaspelita
Img 20251005 wa0002
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Tangerang Selatan – Di tengah gemerlap Gedung DPRD Kota Tangerang Selatan, Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna) Provinsi Banten resmi memulai lembaran baru. Pelantikan pengurus daerah periode 2025–2030 pada Sabtu (04/10/2025) lalu, bukan sekadar seremoni, melainkan harapan akan hadirnya angin segar dalam dunia jurnalistik Banten.

Alexander Prabu, Anggota DPRD Kota Tangerang Selatan, dalam sambutannya mengingatkan, “Pers memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kepercayaan publik. Informasi yang faktual, aktual, dan berimbang adalah fondasi utama demokrasi.” Pernyataan ini seolah menjadi pengingat akan tantangan yang diemban Pewarna Banten di era disinformasi yang semakin masif.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Yusuf Mujiono, Ketua Umum Pewarna Indonesia, tak kalah tegas menekankan pentingnya integritas. “Kita tidak boleh terobsesi hanya pada materi. Pewarna Banten harus mampu hadir menjadi teladan melalui karya jurnalistik yang profesional, etis, dan mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya. Pesan ini menjadi krusial, mengingat godaan kepentingan dan komersialisasi kerap menghantui dunia pers.

Dr. Philip S. Buulolo, Ketua Pewarna Banten terpilih, menyadari betul beratnya amanah ini. “Jabatan ini bukan sekadar gelar, melainkan panggilan untuk berkarya dan melayani. Kami siap membuka ruang kerja sama dengan seluruh pihak untuk memajukan dunia pers di Banten,” ungkapnya dengan semangat. Namun, pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana Pewarna Banten akan menjaga independensi di tengah potensi intervensi berbagai pihak?

Forum Group Discussion (FGD) bertema “Jurnalis Kreatif dan Kritis dengan Etika Jurnalistik” menjadi bukti kesadaran Pewarna Banten akan tantangan disrupsi digital. Namun, mampukah mereka benar-benar beradaptasi tanpa mengorbankan kualitas dan kedalaman informasi?

Kehadiran para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perwakilan pemerintah daerah dalam acara ini menunjukkan dukungan yang besar. Namun, dukungan ini juga membawa ekspektasi. Mampukah Pewarna Banten memenuhi harapan tersebut tanpa kehilangan jati diri dan idealisme?

Lima tahun ke depan akan menjadi ujian bagi Pewarna Banten. Apakah mereka mampu menghadirkan “warna baru” yang benar-benar berintegritas dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Banten, ataukah hanya menjadi bagian dari riuhnya dunia pers yang kehilangan arah? Waktu yang akan menjawab.

Jurnalis Romo Kefas