Pelitanusantara.com
Keraton Jogja diserang pasukan Pangeran Diponegoro dari segala penjuru.
Serangan dimulai dari arah utara. Para prajurit menyerang tanpa takut mati. Bagaikan setan yang tidak takut senjata apapun. Padahal senjatanya hanya ketapel saja.
Namun, leparannya selalu tepat sasaran. Hingga para prajurit Keraton Jogja gentar melawannya. Apalagi mereka seperti berperang setengah hati. Nyalinya gampang ciut.
Sementara lemparan ketapel bagaikan hujan. Terus menerus menajdikan lawan sebagai sasaran.
Ada yang kena tangannya, membuat tak lagi bisa memegang senjata. Ada yang kena badannya, hingga tak bisa lagi menyerang. Ada juga yang kena dadanya, wajahnya, bahkan kepalanya.
Senjata ketapel benar-benar jitu melumpuhkan lawan. Bukan hanya prajurit kerajaan yang kewalahan. Juga prajurit Belanda. Sungguh sebuah serangan di luar dugaan.
Sementara itu, di luar ibukota, seluruh pedagang sudah dilarang masuk. Terutama pedagang beras. Hingga pasokan beras pun terhenti masuk ke dalam keraton.
Dengan tidak adanya beras, maka keraton pun tak ada nasi.
Hal itu membuat semua orang resah. Banyak bangsawan yang diam-diam keluar dari istana untuk cari makan. Mereka tidak tahan kelaparan. Walau kalau bertemu pasukan Diponegoro, mereka akan terancam nyawanya.
Sementara, pasar pun sepi. Tak ada penjual lagi. Tak ada kegiatan jual beli. Pasar sudah menjadi tempat mengungsi orang-orang yang selama ini hidup di dalam benteng.
Demi menghambat penyerangan, gerbang istana ditutup. Plengkung Gading dan Plengkung Mangundipuran yang berada di belakang kerajaan. Mereka khawatir penyerang akanmasuk ke dalam istana.
Namun, penutupan itu tidak membuat pasuka Diponegoro gentar atau menghentikan serangan.
Sedangkan, kehidupan di dalam istana semakin sengsara. Tak ada lagi beras yang tersisa. Tak ada lagi nasi yang bisa dimakan.
Hingga mereka terpaksa makan poson pisang sebagai pengganti nasi. Juga masak bunga pohon kelapa sebagai lauknya.
Sungguh kehidupan yang sangat mengenaskan.
Raja seharusnya memberikan keamanan dan kesejahteraan pada rakyat. Namun, bagi orang yang dekat, yang berada di sekelilingnyapun, tak bisa memberikan. Apalagi kepada rakyat yang jauh.
Dikisahkan, penyerangan telah berlangsung 10 hari.
Patih Danureja IV mengirim surat ke Keraton Solo. Meminta kiriman beras.
Namun, utusan yang dikirim dirampok di tengah jalan. Hingga surat tak sampai ke Solo.
Surat kedua dikirim. Kali ini dikawal tentara Belanda. Lagi-lagi dirampok di tengah jalan. Semua terbunuh dengan pedang yang diberi racun. Bahkan senjata pasukan Belanda berhasil dirampasnya.
Kejadian itu membuat Residen Belanda marah. Patih Danureja IV dimaki-maki dengan sumpah serapah. Bahkan seperti akan dibunuhnya.
Sementara, banyak pejabat kerajaan yang terus keluar dari istana. Merka tiak kuat menahan lapar yang sangat. Begitu juga dengan para prajuritnya.
Keadaan di dalam istana benar-benar genting. Semakin hari bertambah lemah kekuatannya.
Sementara, di luar kerajaan, para penyerang membakar perkampungan di sekeliling keraton. Dari kampung Ngabeyan, Notoyudan, hingga Sindunegaran.
Hanya kampung Pecinan dan Danurejan yang belum dibakar. Karena kampung itu dijaga banyak anjing galak. Dan, diam-diam mereka menyimpan persediaan padi.
Dengan keadaan istana yang semakin melemah, memberi peluang Pangeran Diponegoro melakukan penyerangan.
Sang pangeran memerintahkan pasukannya utnuk masuk ke dalam keraton. Memanjat benteng-benteng menggunakan tangga bambu.
Pasuka Belanda mencoba menghadangnya. Mereka menyalakan meriam.
Perang pun pecah di sekitar Sindujayan.
Pasukan Belanda bergerak ke arah selatan. Menyerang pasukan Diponegoro yang hendak masuk keraton.
Meriam bergemuruh bergantian. Menggelegar suaranya bagiakan gunung meletus. Namun tidak menggetarkan pasukan Diponegoro.
Ketapel selalu siaga dengan batu-batu sebagai senjatanya. Ketapel menjadi senjata yang ampuh dibanding pedang, keris, atau tombak. Karena bisa membidik lawan dari jarak jauh.
Bila kena tangan, senjata pasukan Belanda akan terjatuh, tidak bisa menembak lagi. Bila kena kaki, jalannya menjadi pincang, tidak bisa bergerak cepat.
Bila kena kepala, membuat pusing, bahkan batok kepala bisa pecah. Bila kena mata, membuat pandangan terganggung, bahkan bisa buta seketika.
Sampai akhirnya, pasukan Diponegoro berhasil masuk ke dalam benteng. Meski terus dihujani tembakan meriam.
Serangan meriam yang bertubi-tubi, akhirnya membuat pasukan Diponegoro mundur. Menyelamatkan diri ke kampung Sonosewu dan ke Tegalrejo.
Pasukan Belanda mengejarnya. Perang senapan melawan ketapel terjadi di Kali Winongo, lanjut ke kampung Laleyan.
Pasukan Diponegoro pun gagal masuk ke dalam istana. Pasukan Belanda berhasil mengusirnya.
Kegagalan serangan itu disampaikan pada Pangeran Diponegoro.
Dikabarkan juga keadaan para bangsawan di dalam keraton yang kekurangan makan, Hingga harus makan pohon pisang dan bunga kelapa sebagai penahan lapar.
Bahkan ada yang nekat mencuri-curi keluar istana pada malam hari. Mencari pedagang yang mau menjual bahan pangan, meski dengan harga sangat mahal.
Mendengar laporan itu, Pangeran Diponegoro merasa sangat sedih hatinya. Bagaimanapun, semua bangsawan Keraton Jogja adalah kerabatnya.
Tak terasa, berlinangan air matanya. Merasa bersalah telah membuat sengsara keluarga besarnya.
“Saya merasa berdosa….”
#DariBerbagaiSumber













