DUA PANTANGAN YANG SUDAH DILAKUKAN

Kefaspelita
Download (14)
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Karena naskah “Babad Kedung Kebo” ditulis oleh Cokronegoro, sebagai lawan dalam Perang Jawa, maka isinya pun agak tendensi untuk menyalahkan Pangeran Diponegoro.

Salah satunya adalah pantangan yang harusnya dihindari, bila ingin menang, malah dilakukan.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Mungkin ini hanya sebuah  pembenaran saja dari Cokronegoro, agar merasa benar karena berada pihak seberang, melawan Pangeran Diponegoro.

Begini dua larangan yang dilakukan itu.

Ketika itu, Belanda merasa kewalahan menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro.

Maka, Residen Jogja mengirim surat bantuan ke Keraton Solo, ke Semarang, juga Batavia.

Rencananya, Belanda mau menyerang ke Selarong, markas pasukan Diponegoro.

Singkat cerita, berkumpullah pasukan gabungan itu. Jumlahnya 3.000 prajurit.

Berangkat ke Selarong melalui jalur desa Jaranan. Tujuh buah meriam ditandu prajurit, berjalan paling depan, sebagai penunjuk jalan.

Sementara itu, berita penyerangan Belanda telah sampai di Selarong. Pangeran Diponegoro menyiagakan pasukannya. Jumlahnya 3.000 prajurit.

“Kita gunakan siasat perang Supit Urang. Selarong menjadi dadanya dengan banyak prajurit di sini. Selebihnya bersiaga si sebelah kanan dan kiri Selarong menjadi capitnya.

“Bila di Selarong sudah pecah perang, kedua capit segera merapat untuk mengepung dan menyerang. Bawalah tombak dan ketapel sebagai senjata. Sediakan batu sebanyak-banyaknya.”

Maka demikianlah. Perbukitan Selarong sebagai “dada udang” disiapkan menjadi medan perang.

Untuk kekutan pengepung sebagai “capit udang” bersembunyi di desa Pendowo dan Mersi. Mereka diperintahkan menyamar sebagai penduduk.

Semua prajurit telah bertekad berperang habis-habisan. Mereka sudah bersiap mati dalam peperangan. Karena mereka yakin tengah berperang melawan kejahatan. Mereka berperang di jalan Allah.

“Jihad fi sabilillah kita niatkan. Perang Sabil kita mulai….,” ucap Pangeran Diponegoro memberi semangat para prajuritnya.

Dikisahkan, pasukan Belanda pun sampai di Selarong.

Tujuh buah meriam menggelegar bagai halilintar. Disambung suara seruling dang tambur yang saling berbaur. Ditingkahi terompet yang melengking tinggi. Gong dipukul bertalu menggema keras sekali.

Alunan genderang perang terus bercampur desing senapan. Belanda terus memberondong tanpa henti ke segala arah.

Sementara pasukan Diponegoro sudah siap mati. Mereka berani sekali. Tidak takut dengan hujan tembakan.

Beramai-ramai menyerang pasukan Belanda. Membabi buta membunuh siapa saja yang datang menyerang. Sama sekali tidak peduli luka. Keberanian mereka membuat banyak prajurit Belanda tewas menjadi korban.

Setelah itu, pasukan Jawa yang menjadi sasaran mereka. Pasukan dari Keraton Solo dan Jogja. Pasukan yang berperang dengan perasaan setengah hati. Karena tidak tega harus berperang sesama saudara.

Melihat kekalahan pasukannya, Patih Danureja IV kelimpungan.

Pasukan Diponegoro tidak terkalahkan. Di antara dentum meriam dan desing senapan, mereka terus menerjang.

Dengan keberanian luar biasa, mereka berhasil membunuh para prajurit penyulut meriam. Semua penyulutnya terbunuh. Hingga tak ada lagi yang menyalahkan meriam. Meriam pun berhasil dirampas oleh mereka.

Tanpa meriam, pasukan Belanda seperti tidak punya kekuatan berperang. Mereka berlari menyelamatkan diri.

Saat itulah, dua penyerang sayap kanan dan sayap kiri bergerak mengepung mereka. Siasa “Supit Urang” mereka jalankan dengan sempurna. Hingga pasukan Belanda yang hendak melarikan diri menjadi sasaran penyerangan.

Ketapel kembali dilayangkan. Batu-batu beterbangan seperti hujan. Banyak prajurit Belanda yang tewas menjadi sasaran.

Penyerangan Belanda ke Selarong telah benar-benar gagal.

Tujuh meriam sudah dirampas. Banyak prajurit yang tewas. Mereka yang tertangkap menyatakan menyerah.

Senjata yang ditinggalkan dirampas pasukan Diponegoro. Dikumpulkan dan diserahkan pada sang pangeran. Semua dibagikan kepada prajuritnya secara merata.

Sementara pasukan gabungan Belanda-Keraton Jogja – Keraton Solo berlari kembali ke ibukota.

Dua kali serangan Belanda telah gagal menangkap Pangeran Diponeogoro. Baik serangan ke Tegalrejo maupun ke Selarong.

Residen Semitsar bingung bagaimana mengalahkan pasukan yang tidak takut mati dari Pangeran Diponegoro.

Apalagi pasukannya selalu bertambah setiap harinya. Banyak rakyat yang terus bergabung ke Selarong.

Sementara pasukan Keraton Jogja justru semakin berkurang setiap harinya. Banyak yang pergi dan bergabung dengan mereka. Sedangkan pasukan Belanda sudah banyak mati dalam peperangan.

Perang sudah berlangsung hampir sebulan. Kerajaan semakin rusak. Istana kekurangan makan. Ibukota tidak berpenghuni lagi. Banyak rakyat yang mengungsi.

Tak ada penjual makanan di ibukota. Bantuan pangan dari luar daerah selalu berhasil dibegal dari segala arah. Jalan masuk ke ibukota telah dikuasai oleh pemberontak.

Residen Semitsar pusing kepalanya. Tidak tahu harus bagaimana bisa menyelesaikannya.

“Satu-satunya harapan adalah bantuan pasukan dari Batavia. Saat itulah kemenangan jadi milik kita.”

Begitu katanya kepada Patih Danureja IV.

Sementara itu, di perbukitan Selarong semakin ramai setiap harinya. Wilayah pegunungan itu telah berubah seperti ibukota kerajaan.

Pangeran Diponegoro telah benar-benar diangap sebagai Raja Jogja yang sesungguhnya.

Namun, karena itu juga bibit-bibit kesombongan mulai muncul pada diri sang pangeran.

Sifat takabur mulai menjangkiti hatinya. Merasa bangga dengan banyaknya rakyat yang mendukungnya.

Merasa banyak didukung kaum bangsawan. Merasa sangat diharapkan menjadi Ratu Adil yang bisa membawa kesejahteraan Tanah Jawa.

Padahal itulah pantangannya. Larangan bila ingin mejadi seorang Raja Besar Tanah Jawa. Pantangan yang telah disampaikan Allah lewat pertanda yang diterimanya. Larangan yang telah disampaikan lewat leluhurnya, Ki Ageng Selo.

Ketika itu, hampir seluruh wilayah Keraton Jogja telah menyatakan dukungan pada Pangeran Diponegoro. Mulai dari daerah Kedu, Mataram, hingga Pajang. Hanya wilayah Bagelen saja yang belum.

Dukungan semakin meluas. Datang dari Pesisir Selatan hingga Pesisir Utara.

Melihat besarnya dukungan yang datang, semakin besar hatilah Pangeran Diponegoro. Hingga menganggap dirinya benar-benar layak jadi Raja Besar Tanah Jawa. Raja Besar yang ditakdirkan Tuhan dan banyak didukung rakyat Tanah Jawa.

Namun, itulah kekeliruannya. Merasa benar, merasa tinggi, merasa besar, merasa mulia, hingga lupa niatan awalnya.

Hal yang lebih fatal adalah kesalahan tentang waktu pengangkatannya.

Pengangkatan Pangeran Diponegoro menjadi raja dilakukan pada tahun Windu Wadon. Padahal dalam ajaran Jawa, pengangkatan raja mestinya dilakukan pada tahun Windu Lanang.

Maka, barangsiapa yang diangkat menjadi raja pada tahun Windu Wadon nasibnya akan celaka. Bahkan akan sial masa depannya. Berakitbat fatal seluruh perjuangannya.

Namun, sang pangeran mengabaikan kepecayaan Jawa itu.

Ia lebih mendengar pendapat penasehatnya, Kyai Mojo. Hingga melupakan petunjuk yang sudah didapatkannya lebih dulu.

Karena itu, kelak akan gagal niatnya menjadi Raja Besar. Sebab telah gagal menghindari pantangan yang dilarang.

Namun, semua keberhasilan dan kegagal sudah tercatat dalam Lauful Mahfudz. Sudah menjadi ketentuan yang tidak bisa berubah, karena sudah menjadi keputusan Allah Yang Maha Kuasa.

Sebenarnya, bila dinilai perjuangannya, kekurangan Pangeran Diponegoro hanya sedikit saja. Hanya tidak sabar hingga melakukan perbuatan yang menjadi pantangan.

Karena terpikat dengan ucapan Kyai Mojo yang dianggapnya seorang ulama besar. Sosok yang hendak memberinya gelar Sultan.

“Seorang raja yang tidak bergelar Sultan menjadi tidak syah dalam menegakkan hukum agama Islam. Segala hukum yang diputuskan juga menjadi tidak syah.

“Seorang raja yang taat pada ajaran Islam harus bergelar Sultan. Karena kedudukannya sebagai seorang Khalifah atau wakil Allah.”

Maka begitulah, sang pangeran kemudian diberi gelar Sultan Abdul Hamid Sayidin Panatagama Abdulrahman Khalifah Balad Mataram.

Para ulama menjadi saksi atas pengangkatan gelar itu. Juga para tumenggung, mantri, ngabehi, rangga, demang, dan seluruh prajurit.

Sejak saat itu, sang pangeran tidak disebut dengan nama Pangeran Diponegoro lagi. Melainkan dengan sebutan Sultan Mataram Sayidin Abdul Rahman.

Kyai Mojo menyebutnya dengan panggilan Khalifatullah.

Begitulah ‘ramalan Babad Kedung Kebo’ atas kekalahan Pangeran Diponegoro kelak di kemudian hari.

#DariBerbagaiSumber