Pelitanusantara.com Di tengah hiruk pikuk Kerajaan Mataram, sebuah kisah cinta tragis terukir antara Rara Oyi, seorang gadis desa cantik, dan Raden Mas Rahmat, Putra Mahkota. Kisah ini bersumber dari catatan sejarah yang ditulis oleh H.J. De Graaf, seorang sejarawan Belanda yang terkenal dengan karyanya tentang sejarah Indonesia, khususnya dalam buku “Desintegrasi Mataram Di Bawah Mangkurat I” dan “Awal Kebangkitan Mataram”.
Rara Oyi, seorang gadis belia yang dijual oleh ayahnya pada usia 11 tahun kepada utusan Kerajaan Mataram untuk dijadikan selir Susuhunan Amangkurat I, Raja Mataram yang baru saja kehilangan salah satu selirnya. Namun, sang Raja menolak Rara Oyi karena masih kanak-kanak dan menitipkannya kepada Ngabai Wirareja untuk dibesarkan.
Tapi takdir berkata lain. Raden Mas Rahmat, Putra Mahkota, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Rara Oyi dan membawanya lari dari pengawasan ayahnya. Keduanya menikah secara diam-diam dan hidup bahagia, saling mencintai. Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.
Amangkurat I murka ketika mengetahui bahwa Putra Mahkota telah menculik calon istrinya dan memerintahkan Raden Mas Rahmat untuk membunuh Rara Oyi dengan cara meminumkan racun jika ingin diampuni. Rara Oyi, yang tidak ingin Raden Mas Rahmat ikut dibunuh, memohon agar Raden Mas Rahmat mau membunuhnya.
Dengan air mata yang mengalir deras, Raden Mas Rahmat memenuhi permintaan Rara Oyi. Ia meracuni kekasih hatinya sendiri, dan Rara Oyi meninggal dunia dalam pelukannya. Raden Mas Rahmat menangis pilu, menyadari bahwa cintanya harus berakhir dengan kematian.
Kematian Rara Oyi tidak hanya menghancurkan hati Raden Mas Rahmat, tetapi juga memicu dendam yang mendalam terhadap ayahnya. Ia membiayai pemberontakan Raden Trunojoyo yang menghancurkan Kerajaan Mataram. Amangkurat I wafat dalam pelarian pada tahun 1667, menandai keruntuhan Kesultanan Mataram.
Kisah pilu Rara Oyi dan Raden Mas Rahmat menjadi pelajaran tentang bagaimana cinta dan kekuasaan dapat membawa kehancuran. Kisah ini juga mengingatkan kita tentang betapa berharganya cinta dan kehidupan, serta betapa berbahayanya kekuasaan yang tidak terkendali. (Red)













