PRIA YANG MEMBUAT DUNIA MENDENGAR NAMA “INDONESIA” — LALU HAMPIR KEHILANGAN NYAWANYA

Kefaspelita
File 00000000c1307209af63c428969ea0f3
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Jakarta – Bangsa Indonesia akhirnya berdiri sebagai negara merdeka.

Di sebuah rumah sederhana di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, Soekarno membacakan teks Proklamasi didampingi Mohammad Hatta. Upacara berlangsung singkat, sederhana, bahkan nyaris tanpa pengamanan.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Tetapi di balik momen bersejarah itu, ada satu kenyataan yang sangat mengerikan:

Dunia internasional belum tahu Indonesia merdeka.

Tidak ada internet.

Tidak ada televisi.

Tidak ada media sosial.

Dan seluruh jalur komunikasi internasional saat itu masih diawasi ketat tentara Jepang.

Artinya, jika kabar kemerdekaan gagal keluar dari Jakarta malam itu, Indonesia bisa dianggap belum pernah lahir di mata dunia.

Lalu muncul seorang pemuda berusia 26 tahun yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi memastikan satu kalimat terdengar ke seluruh dunia:

“Indonesia sudah merdeka.”

Namanya Muhammad Yusuf Ronodipuro.


TERKURUNG DI DALAM GEDUNG RADIO

Saat rakyat mulai bersorak menyambut kemerdekaan, Yusuf justru berada dalam situasi yang menyerupai penjara.

Ia bekerja di Radio Hoso Kyoku, stasiun radio milik Jepang di Jakarta. Sejak Jepang menyerah kepada Sekutu, gedung radio itu dijaga ketat oleh Kempetai, polisi militer Jepang yang terkenal kejam.

Semua pintu dijaga tentara bersenjata.

Tidak ada yang boleh keluar.

Tidak ada yang boleh masuk.

Seluruh siaran internasional dihentikan total.

Yusuf dan para pegawai radio praktis dikurung hidup-hidup di dalam gedung.

Mereka bahkan tidak tahu bahwa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya pagi itu.

Hingga menjelang malam…

Seseorang datang membawa secarik kertas yang mengubah sejarah bangsa.


SECARIK KERTAS YANG MEMBAKAR SEMANGAT

Menjelang petang 17 Agustus 1945, seorang pegawai kantor berita Domei bernama Syahruddin berhasil menyelinap masuk melalui belakang gedung radio.

Ia membawa pesan rahasia dari Adam Malik.

Isi pesan itu sangat singkat:

Soekarno dan Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Yusuf langsung sadar bahwa waktu tidak banyak.

Jika berita itu tidak segera disiarkan ke luar negeri, Sekutu bisa datang dan menganggap Indonesia masih bagian dari kekuasaan Jepang.

Kemerdekaan bisa dirampas bahkan sebelum dunia mengetahuinya.

Dan malam itu, Yusuf memutuskan mengambil risiko yang bisa membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya.


MALAM KETIKA SUARA INDONESIA MENEMBUS DUNIA

Bersama Bachtiar Loebis dan teknisi radio Joe Seragih, Yusuf mulai menyusun rencana rahasia.

Masalahnya, seluruh studio utama dijaga ketat tentara Jepang.

Tetapi Yusuf menemukan satu ruangan yang nyaris terlupakan:

Studio siaran luar negeri yang sudah lama tidak digunakan.

Ruangan itu gelap.

Sepi.

Berdebu.

Namun di sanalah harapan Indonesia hidup.

Masalah berikutnya lebih rumit.

Studio itu tidak tersambung ke pemancar internasional.

Joe Seragih kemudian diam-diam memindahkan sambungan kabel agar siaran bisa dipancarkan ke luar negeri.

Satu kesalahan kecil saja…

Mereka bisa ditembak mati saat itu juga.

Tepat pukul 19.00 WIB, Yusuf duduk di depan mikrofon.

Jantungnya berdegup keras.

Namun suaranya tetap tegas.

Ia membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke udara internasional.

Beberapa menit kemudian, ia kembali membacakannya dalam bahasa Inggris agar radio-radio dunia memahami isi siaran tersebut.

Dan malam itu…

Untuk pertama kalinya dunia mendengar nama:

INDONESIA.

Siaran itu berhasil ditangkap radio internasional, termasuk BBC London dan sejumlah stasiun radio di Asia.

Kabar kemerdekaan Indonesia akhirnya menembus dunia.


SETELAH SIARAN ITU, PENYIKSAAN DIMULAI

Tetapi keberanian selalu memiliki harga.

Tentara Jepang ternyata ikut mendengar siaran tersebut.

Kempetai marah besar.

Yusuf dan rekan-rekannya langsung ditangkap.

Mereka dipukuli brutal tanpa belas kasihan.

Tubuh Yusuf dihantam berkali-kali hingga penuh darah.

Wajahnya babak belur.

Namun penderitaan itu belum selesai.

Seorang perwira Jepang menghunus pedang katana dan hampir memenggal kepala Yusuf saat itu juga.

Beberapa detik lagi…

Namanya mungkin hanya menjadi catatan kecil yang hilang dalam sejarah.

Nyawanya terselamatkan setelah seorang pegawai Jepang lainnya masuk dan menghentikan penyiksaan karena Jepang sebenarnya sudah kalah perang.

Yusuf selamat.

Tetapi malam itu tubuhnya nyaris hancur demi memastikan dunia tahu Indonesia telah merdeka.


“SEKALI DI UDARA TETAP DI UDARA”

Dalam kondisi luka parah dan pakaian berlumuran darah, Yusuf mengayuh sepeda menuju rumah pelukis Basuki Abdullah di kawasan Gambir.

Keesokan harinya ia dirawat di rumah sakit Salemba, yang sekarang dikenal sebagai RSCM.

Namun perjuangannya belum selesai.

Pada 11 September 1945, Yusuf ikut mendirikan Radio Republik Indonesia atau RRI.

Dari perjuangan penuh darah dan keberanian itu lahirlah slogan legendaris:

“Sekali di Udara Tetap di Udara.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan penyiaran.

Itu adalah sumpah perjuangan.

Sebuah janji yang dibayar dengan luka, darah, dan nyawa.


PAHLAWAN BESAR YANG HAMPIR DILUPAKAN

Muhammad Yusuf Ronodipuro lahir di Salatiga pada 30 September 1919 dan wafat pada 27 Januari 2008 di usia 88 tahun.

Ironisnya, nama sebesar ini justru jarang dibahas dalam buku sejarah sekolah.

Padahal tanpa keberaniannya malam itu, dunia mungkin terlambat mengetahui kemerdekaan Indonesia.

Dan sejarah bangsa ini bisa berjalan sangat berbeda.


KEMERDEKAAN TIDAK HANYA DIPERJUANGKAN DENGAN SENJATA

Kemerdekaan Indonesia bukan hanya lahir dari bambu runcing dan dentuman senapan.

Tetapi juga dari keberanian seorang penyiar radio yang memilih berbicara kepada dunia meski sadar nyawanya bisa melayang kapan saja.

Hari ini kita bebas berbicara.

Bebas menulis.

Bebas bersuara.

Karena pernah ada seorang pria yang rela dihancurkan tubuhnya demi memastikan nama Indonesia menggema ke seluruh dunia.

Dan pria itu adalah:

MUHAMMAD YUSUF RONODIPURO.

Pahlawan yang suaranya menyelamatkan kehormatan bangsa.

Keterangan Gb Menggunakan Teknologi AI