Jauh Sebelum Indonesia Merdeka, Tokoh Ini Sudah Menantang Belanda dengan Bahasa Indonesia di Sidang Resmi

File 000000009bd07208bb01dd8e3ce9c5ee
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Di dalam ruang sidang Volksraad, para pejabat kolonial Belanda duduk dengan tata protokol yang ketat. Bahasa Belanda menjadi simbol kekuasaan. Siapa pun yang berbicara di forum itu biasanya harus mengikuti tradisi kolonial: bicara dengan bahasa penjajah.

Namun pada suatu hari, seorang tokoh bumiputera berdiri dan melakukan sesuatu yang membuat ruang sidang mendadak sunyi.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Ia berbicara menggunakan bahasa Indonesia.

Bukan sekadar sapaan pembuka. Bukan pula kalimat pendek untuk basa-basi. Ia menyampaikan pidato resmi dengan penuh keyakinan memakai bahasa rakyat pribumi di depan para pejabat Belanda.

Tokoh itu adalah Jahja Datoek Kajo.

Dan keberaniannya kemudian dikenang sebagai salah satu simbol awal perlawanan identitas bangsa Indonesia terhadap kolonialisme.

Bahasa yang Dianggap “Tidak Layak”

Dalam arsip sejarah Hindia Belanda dan berbagai penelitian mengenai Volksraad, forum tersebut memang didominasi bahasa Belanda. Bahasa Melayu — yang kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia — dipandang sebagai bahasa kelas bawah dan tidak dianggap pantas menjadi bahasa politik resmi.

Karena itu, tindakan Jahja pada 16 Juni 1927 menjadi sangat mengejutkan.

Menurut sejumlah catatan sejarah nasional dan dokumentasi sidang Volksraad, ia bukan hanya berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi juga tetap konsisten menggunakannya meskipun mendapat tekanan dari anggota Belanda.

Dalam beberapa laporan surat kabar bumiputera masa itu, Jahja bahkan meminta siapa pun yang ingin menyela pidatonya agar menggunakan bahasa Indonesia.

Ia dengan tegas menyebut dirinya sebagai “Indonesier”.

Kalimat itu terdengar biasa hari ini. Tetapi pada masa kolonial, ucapan tersebut merupakan bentuk keberanian politik yang besar.

Sebab saat itu Indonesia bahkan belum merdeka.

Lahir di Koto Gadang, Tumbuh Bersama Penderitaan Rakyat

Jahja Datoek Kajo lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, pada 1 Agustus 1874.

Ia bukan anak bangsawan besar kolonial. Masa kecilnya diwarnai kehidupan merantau dan berpindah-pindah tempat belajar. Data biografinya tercatat dalam arsip sejarah Minangkabau serta dokumentasi pemerintahan Hindia Belanda.

Kariernya dimulai dari bawah sebagai pegawai administrasi kolonial. Perlahan ia naik menjadi pejabat lokal hingga memperoleh gelar adat Datoek Kajo.

Namun pengalaman yang paling membekas dalam hidupnya terjadi pada 1908.

Saat itu pemerintah kolonial Belanda memberlakukan kebijakan belasting atau sistem pajak baru di Sumatera Barat. Penolakan rakyat terhadap kebijakan tersebut memicu bentrokan berdarah yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Paladangan.

Dalam berbagai catatan sejarah lokal Minangkabau, tragedi itu menjadi salah satu luka sosial besar masyarakat Sumatera Barat pada masa kolonial.

Jahja menyaksikan langsung penderitaan rakyat akibat kebijakan tersebut.

Sejak saat itu, pandangannya terhadap kolonialisme berubah drastis.

Perlawanan Tanpa Senjata

Berbeda dengan tokoh pergerakan lain yang melawan lewat organisasi massa atau perjuangan bersenjata, Jahja memilih jalur politik dan budaya.

Ia memahami satu hal penting: bangsa yang ingin merdeka harus memiliki identitas sendiri.

Dan identitas itu dimulai dari bahasa.

Ketika sebagian besar elite bumiputera masih merasa lebih terhormat menggunakan bahasa Belanda, Jahja justru tampil membawa bahasa Indonesia ke ruang politik kolonial.

Menurut sejumlah kajian sejarah nasionalisme Indonesia, langkah itu memiliki dampak simbolik yang sangat besar. Bahasa Indonesia perlahan mulai dipandang bukan sekadar bahasa pergaulan, melainkan bahasa perjuangan bangsa.

Apa yang dilakukan Jahja bahkan terjadi sebelum Sumpah Pemuda tahun 1928 menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Artinya, Jahja sudah lebih dulu memperjuangkan identitas Indonesia sebelum deklarasi nasional itu lahir.

Tokoh Besar yang Nyaris Dilupakan

Nama Jahja Datoek Kajo memang tidak terlalu sering muncul dalam buku pelajaran sekolah. Namun banyak sejarawan menilai perannya sangat penting dalam sejarah perkembangan nasionalisme Indonesia.

Ia membuktikan bahwa perlawanan tidak selalu dilakukan dengan senjata.

Kadang, keberanian terbesar justru lahir dari sebuah pilihan sederhana: berbicara dengan bahasa sendiri di hadapan penjajah.

Dan di ruang sidang kolonial yang penuh tekanan itu, Jahja Datoek Kajo memilih berdiri tegak sebagai orang Indonesia.

Keterangan Gb ; Menggunakan Teknologi AI