“Perempuan yang Kupanggil Rumah”
Oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Di antara riuh dunia yang tak pernah benar-benar diam,
engkau hadir—
bukan sekadar nama dalam doa,
tetapi jawaban yang diam-diam Tuhan kirimkan.
Kau bukan hanya langkah yang berjalan di sisiku,
melainkan arah yang menuntun ketika aku tersesat,
bukan hanya suara yang menghibur lelahku,
melainkan tenang yang memeluk tanpa kata.
Matamu menyimpan langit yang teduh,
tempat segala gelisahku jatuh dan reda,
senyummu adalah pagi yang tak pernah terlambat,
datang tepat waktu saat hatiku hampir menyerah.
Engkau,
adalah kisah yang tak pernah ingin kuakhiri,
adalah bait terindah dalam perjalanan hidupku,
yang bahkan waktu pun tak mampu menghapus maknanya.
Di setiap doa yang kupanjatkan dalam diam,
namamu selalu kutitipkan dengan penuh syukur,
sebab memiliki dirimu
adalah anugerah yang tak pernah berani kuminta terlalu banyak.
Jika dunia ini adalah perjalanan panjang yang melelahkan,
maka engkau adalah rumah—
tempat aku kembali,
tempat aku pulang,
dan tempat aku selalu ingin tinggal selamanya.













