Wisuda STTII Yogyakarta, Memberitakan Kemulian-Nya ke Seluruh Bangsa hingga Ujung Dunia

IMG 20250627 WA0118
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Yogyakarta,Pelitanusantara.com Kamis 26 Juni 2025 yang baru lalu, Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia (STTII) mewisuda mahasiswa, baik program S1, S2, maupun S3 di Kampus STTII Jl. Sala Km. 11 Yogyakarta. Mahasiswa program S1 yang diwisuda 28 orang, S2 ada 33 orang, dan S3 terdapat 19 orang.

Pada acara wisuda yang mengambil tema “Declare His Glory to All Nations, To The Ends of The Earth (Psalms 69:3; Acts 1:8)” ini, Pdt. Dr. Sumbut Yermianto, M.Th. memberikan orasi ilmiahnya. Di hadapan para wisudawan dan anggota Yayasan Iman Indonesia serta para tamu undangan, Ketua STTII Yogyakarta ini menyampaikan pandangannya.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58
Pdt. Dr. Sumbut Yermianto, M.Th.

Melakukan Bersama-sama

Berdasarkan teks Kisah Para Rasul 1:8, Pdt. Dr. Sumbut Yermianto, M.Th menjelaskan bahwa pemberitaan Injil ke Yerusalem, Yudea, Samaria, dan ke ujung bumi itu tidak dilakukan bertahap tetapi bersama-sama.

Oleh karenaya dengan penuh semangat Ketua STTII Yogyakarta ini mengajak para wisudawan untuk terlibat dalam pemberitaan Injil yang membawa kemuliaan Tuhan ini secara bersama-sama.

“Apa pun posisi saudara dalam lokal tertentu, saudara dan saya perlu memikirkan tugas ini, karena ada daerah-daerah yang belum menerima kemuliaan Tuhan. Ketika pemberitaan sudah mencapai keseluruhan, maka barulah kiamat tiba,” demikian ujar Sumbut Yermianto mendasarkan pendapatnya pada teks Matius 24:14 dan Wahyu 7:9.

Penelitian Eksploratif dan Analitis

Di antara wisudawan program doktoral atau S3, ada Pdt. Samuel Basri, Th.D (67) yang disertasinya menyorot keberadaan gereja Kolose yang bertahan dengan gempuran filsafat Gnostik yang relevan dengan kondisi jemaat Kristen saat ini yang juga bertahan dengan serangan pengajaran Injil yang menyimpang dari Injil Kristus. Disertasi yang ditulis Samuel Basri berjudul: “Koreksi Paulus terhadap Ajaran Menyimpang Gnostik di Jemaat Kolose: Sebuah Analisis Historis, Eksegetis, dan Teologis terhadap Kolose 1:15–20 dan 2:8–23”.

“Judul ini mencerminkan arah penelitian yang bersifat eksploratif dan analitis terhadap teks-teks tertentu dalam Surat Kolose yang mengandung respons teologis Paulus terhadap pengaruh ajaran menyimpang. Penelitian ini menggabungkan kajian sejarah konteks sosial religius jemaat Kolose, analisis eksegetis terhadap struktur dan diksi dalam teks Yunani, serta penafsiran teologis terhadap koreksi Paulus terhadap ajaran yang muncul. Pemilihan judul ini juga menunjukkan bahwa penelitian bukan hanya bersifat tekstual, tetapi juga berorientasi pada relevansi teologisnya bagi masa kini,” ujar Samuel Basri yang sejak tahun 1999 hingga sekarang menjadi Gembala di Gereja JKI Injil Kerajaan Satelit Citarum, Semarang.

“Disertasi ini menelaah koreksi teologis Paulus terhadap ajaran menyimpang yang mengarah pada Gnostisisme dalam jemaat Kolose dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif serta metode historis, eksegetis, dan teologis. Penelitian ini menganalisis diksi-diksi kunci dalam Surat Kolose seperti pleroma, eikon, gnosis, mysterion, sophia, teleios, theotes, archai, exousia, dan tapeínōsis/tapeinophrosýnē untuk menunjukkan bagaimana Paulus mereformulasi makna istilah-istilah tersebut dalam terang Kristologi, Soteriologi, Ekklesiologi, dan Etika Kristen. Temuan utama menunjukkan bahwa unsur Gnostik dalam jemaat Kolose masih berupa benih atau embrio yang belum berkembang menjadi sistem teologis penuh seperti yang dijumpai dalam tulisan-tulisan Bapa Gereja abad ke-2,” urai suami dari Endang Puji Lestari ini.

Pdt. Samuel Basri, Th.D

Strategi Apologetik yang Konstruktif

Menurut Samuel Basri lebih lanjut, bahwa Surat Kolose yang ditulis Rasul Paulus ini lebih dari sekadar merespons secara reaktif. “Surat Kolose menampilkan strategi apologetik yang konstruktif dalam menghadapi ajaran sesat, dengan menegaskan supremasi Kristus dan kepenuhan ilahi-Nya sebagai pusat iman Kristen,” demikian terang ayah dari Elizabeth Praisepurba Henda, Jeremia Suluhjuda Basri, Rufus Diansaputra Basri, dan Hulda Lily Sharon ini.

Terkait dengan hasil penelitiannya, Samuel Basri juga mengaitkan temuan historis dan eksegetis dengan fenomena pseudognosis pastoral kontemporer, yaitu bentuk-bentuk spiritualitas semu yang secara lahiriah tampak rohani namun menyimpang secara substansial dari Injil Kristus. “Manifestasi seperti Injil kemakmuran, mistisisme subjektif, spiritualitas individualistik, sinkretisme, dan konsumerisme gerejawi menunjukkan bahwa benih kesesatan tetap hadir dalam wujud baru yang lebih halus dan kontekstual. Disertasi ini menegaskan perlunya kepekaan teologis dan pembinaan rohani yang berpusat pada Kristus dan salib-Nya sebagai benteng gereja terhadap infiltrasi nilai-nilai pseudognostik masa kini,” tegas Samuel Basri yang menyelesaikan S1 di STTII yang kala itu bernama STII (Seminary Theological Injili Indonesia) di tahun 1985.

Sebelum menyelesaikan S1, Samuel Basri meraih gelar Sarjana Muda di Seminari Theologia Baptis Indonesia (STBI) Semarang. Melanjutkan program S2 dan meraih gelar M.Ag di STT Abdiel Ungaran, tahun 2016.

Pengalaman pelayanan Pdt. Samuel Basri, D.Th. ini penuh warna dan tantangan. Sebelum melayani di Gereja JKI Injil Kerajaan Satelit Citarum Semarang, tahun 1980 – 1982 merintis Pos PI GBI Cabang Cepiring – Kendal, tahun 1982 – 1987 Gembala di GBI Wonosari dan Cabang GBI Ngatup, Kediri, tahun1987 – 1992 merintis di GBI Rahmani Purbalingga dan GBI Purwonegoro, Banjarnegara dan tahun 1992 – 1999 menjadi Gembala GBI Citarum, Semarang.

Oleh: Suyito Basuki