Pelitanusantara.com Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit, adalah salah satu tokoh yang paling menarik dalam sejarah Indonesia. Ia memerintah Majapahit pada abad ke-15, ketika kerajaan tersebut sedang menghadapi tantangan besar dari dalam dan luar. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh Brawijaya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh putranya sendiri, Raden Patah, yang telah memeluk Islam dan membangun kekuatan di Demak (Slamet Muljana, 2005).
Menurut catatan sejarah, Brawijaya adalah seorang raja yang bijaksana dan memiliki visi yang luas. Namun, ia juga dihadapkan pada kenyataan bahwa kerajaannya sedang mengalami kemunduran. Majapahit, yang pernah menjadi kerajaan terbesar di Nusantara, kini menghadapi ancaman dari berbagai pihak, termasuk dari kerajaan-kerajaan Islam yang mulai berkembang di Jawa (Tomé Pires, 1944).
Ketika Demak menggempur pusat kekuasaan Majapahit, Brawijaya dihadapkan pada pilihan yang sulit. Apakah ia akan mempertahankan kekuasaannya dengan kekerasan, ataukah ia akan menyerah dan menerima kekalahan? Menurut beberapa sumber, Brawijaya memilih untuk melarikan diri ke Gunung Lawu, di mana ia bertapa dan moksa, menghilang dalam sunyi seperti raja suci (Negarakertagama, 1995).
Namun, ada juga sumber yang mengatakan bahwa Brawijaya wafat dalam pengasingan, hatinya remuk oleh kenyataan bahwa kerajaannya tumbang oleh darah dagingnya sendiri (Pararaton, 1966). Apa pun akhirnya, nama Brawijaya tetap hidup dalam sejarah dan cerita rakyat. Ia dianggap sebagai simbol kebijaksanaan dan kepemimpinan, serta sebagai pengingat akan pentingnya mempertahankan kesatuan dan kekuatan dalam menghadapi tantangan.
Sumber:
– Muljana, S. (2005). Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKiS.
– Pires, T. (1944). The Suma Oriental of Tome Pires. London: Hakluyt Society.
– Negarakertagama (1995). Terjemahan oleh Slamet Muljana. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
– Pararaton (1966). Terjemahan oleh J.L.A. Brandes. Jakarta: Bhratara.













