Pelitanusantara.com Pada abad ke-18, Indonesia menjadi saksi bisu dari sebuah peristiwa kelam dalam sejarah, yaitu pembantaian etnis Tionghoa pada masa VOC. Peristiwa ini merupakan salah satu contoh kekerasan etnis yang paling kejam dalam sejarah Indonesia.
Menurut Ricklefs (2008), kebencian dan kecemburuan ekonomi telah lama memicu sentimen anti-Tionghoa di kalangan VOC dan penduduk lokal [1]. Etnis Tionghoa memiliki peran penting dalam perdagangan dan ekonomi di Indonesia, yang menimbulkan kecemburuan di kalangan VOC dan penduduk lokal. VOC memandang etnis Tionghoa sebagai ancaman bagi kekuasaan dan kepentingan ekonomi mereka.
Kebijakan VOC untuk membatasi peran etnis Tionghoa dalam ekonomi dan perdagangan di Indonesia kemudian memicu ketegangan antara VOC dan etnis Tionghoa. Konflik kepentingan antara VOC dan etnis Tionghoa juga memicu kekerasan dan provokasi dari kedua belah pihak.
Pada tahun 1740, VOC mulai melakukan pembantaian terhadap etnis Tionghoa di Batavia, dan peristiwa ini kemudian menyebar ke wilayah lain, termasuk Cirebon. Di Cirebon, Kapitan Cina Oey Tamba memainkan peran penting dalam menghadapi konflik antara VOC dan komunitas Tionghoa.
Menurut catatan sejarah yang ditulis oleh Blussé (2002), Oey Tamba memiliki hubungan baik dengan VOC dan berperan sebagai perantara antara VOC dan komunitas Tionghoa [2]. Namun, dalam situasi konflik, peran dan pengaruh Oey Tamba mungkin berbeda-beda tergantung pada situasi dan kondisi saat itu.
Pembantaian etnis Tionghoa di Cirebon berlangsung dengan sangat brutal, banyak etnis Tionghoa yang dibantai, termasuk wanita dan anak-anak. Peristiwa ini memiliki dampak yang besar pada masyarakat Indonesia, banyak etnis Tionghoa yang melarikan diri dari Indonesia dan mencari perlindungan di tempat lain.
Menurut Kumar (2014), pembantaian etnis Tionghoa pada masa VOC merupakan contoh penting dari kekerasan etnis dalam sejarah Indonesia yang perlu diingat dan dipelajari untuk mencegah terjadinya kekerasan serupa di masa depan [3].
Dengan demikian, pembantaian etnis Tionghoa pada masa VOC merupakan contoh penting dari kekerasan etnis dalam sejarah Indonesia yang perlu diingat dan dipelajari untuk mencegah terjadinya kekerasan serupa di masa depan.
Referensi:
[1] Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Palgrave Macmillan.
[2] Blussé, L. (2002). Bitter Bonds: A Colonial Divorce Drama of the Seventeenth Century. Markus Wiener Publishers.
[3] Kumar, A. (2014). Java and Modern Europe: Ambiguous Encounters. Routledge.













