Waspadai Virus Hanta, Ancaman Penyakit dari Paparan Tikus dan Lingkungan Kotor

IMG 20260510 WA0069
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Waspadai Virus Hanta, Ancaman Penyakit dari Paparan Tikus dan Lingkungan Kotor

Jakarta — Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Virus Hanta, penyakit yang ditularkan melalui tikus dan hewan pengerat lainnya. Virus ini diketahui dapat memicu gangguan kesehatan serius, mulai dari infeksi paru-paru hingga gangguan ginjal yang berpotensi mengancam jiwa apabila tidak ditangani dengan cepat.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Virus Hanta umumnya ditemukan di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, seperti gudang, pasar, area pertanian, rumah kosong, hingga kawasan dengan sanitasi yang buruk. Penularan terjadi bukan melalui kontak sosial sehari-hari, melainkan akibat paparan kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi.

Dr. Jusuf Kristianto, MPH, PhD, menjelaskan bahwa salah satu jalur penularan paling umum terjadi ketika seseorang menghirup udara yang tercemar partikel debu dari kotoran tikus yang mengering. Selain itu, risiko juga dapat muncul akibat kontak langsung dengan sarang atau kotoran tikus tanpa alat pelindung.

“Lingkungan yang kotor dan lembap menjadi tempat ideal berkembangnya tikus. Karena itu, kebersihan lingkungan menjadi langkah utama dalam mencegah penyebaran Virus Hanta,” ujarnya.

Gejala awal infeksi biasanya muncul dalam satu hingga dua minggu setelah terpapar virus. Penderita umumnya mengalami demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, hingga mual dan muntah.

Pada kondisi lebih serius, infeksi dapat berkembang menjadi sesak napas, batuk, nyeri dada, gangguan fungsi ginjal, penurunan trombosit, hingga tekanan darah menurun drastis. Beberapa kasus bahkan membutuhkan penanganan intensif akibat gangguan paru-paru berat.

Kelompok yang memiliki risiko tinggi terpapar virus ini antara lain petugas kebersihan, pekerja gudang, petani, peternak, hingga warga yang tinggal di lingkungan dengan populasi tikus tinggi. Risiko serupa juga dapat dialami seseorang yang membersihkan rumah kosong atau gudang lama tanpa menggunakan alat pelindung diri.

Untuk mencegah penyebaran Virus Hanta, masyarakat disarankan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, membuang sampah secara rutin, serta menghindari penumpukan barang yang dapat menjadi sarang tikus.

Selain itu, celah rumah perlu ditutup agar tikus tidak mudah masuk, sementara makanan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat. Saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan.

Pembersihan kotoran tikus juga tidak disarankan dilakukan dengan cara disapu dalam keadaan kering karena dapat membuat partikel virus beterbangan di udara. Area sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu sebelum dibersihkan menggunakan kain atau tisu basah.

Dr. Jusuf juga mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi, nyeri otot berat, sesak napas, serta memiliki riwayat kontak dengan tikus atau lingkungannya.

Menurutnya, deteksi dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat akibat infeksi Virus Hanta.

“Lingkungan bersih adalah langkah sederhana namun sangat penting untuk melindungi keluarga dari berbagai penyakit, termasuk Virus Hanta,” tutupnya.

Jurnalis: Romo Kefas