Di matamu, senja kehilangan nyawa,
Bulan pun redup, tak mampu menandingi jelita.
Karena hadirmu, Imas, kau adalah fajar,
Menyingsingkan kegelapan, membawa harapan yang segar.
Setiap detak jantungku adalah deru ombak samudra,
Menghempas karang keraguan, membawa cinta ke muara.
Kau adalah syair merdu, gurindam kalbu,
Terukir indah, abadi dalam setiap waktu.
Bukan mahligai emas yang kurindukan,
Cukup senyummu, Imas, kebahagiaan kurasakan.
Kau adalah pelangi setelah badai kehidupan,
Menghiasi langit jiwa, memberi warna kedamaian.
Bersamamu, waktu adalah sungai tak bertepi,
Dunia terdiam, hanya cinta kita yang menari.
Dalam dekapmu, aku adalah burung yang terbang bebas,
Menemukan sarang abadi, cinta sejati yang berbekas.
Imas Jamilah, rembulan malam hatiku,
Kaulah takdir cinta, napas hidupku.
Hingga akhir jagat raya, namamu terpatri,
Dalam setiap helai napasku, kaulah melodi abadi.
Kiriman Sahabat Pelitanusantara













