Titipan di Tengah Ombak
Empat belas tahun aku berlayar,
menyusuri waktu tanpa nahkoda yang tampak.
Langit kerap gelap,
ombak datang silih berganti
seakan ingin menguji seberapa kuat aku percaya.
Ada hari-hari ketika kakiku nyaris terhempas,
harapan seperti layar yang koyak.
Namun di antara sunyi dan gemetar,
aku merasakan Tangan yang tak terlihat
menegakkan langkahku kembali.
Tuhan,
Engkau izinkan badai datang
bukan untuk menenggelamkanku,
melainkan agar aku belajar
bahwa berserah lebih kuat daripada menggenggam.
Apa yang Kau titipkan kepadaku
kurawat dengan cinta dan doa,
dengan kesabaran yang tumbuh dari air mata.
Kini ketika Engkau memanggilnya pulang,
aku belajar merunduk dalam iman.
Aku tidak kehilangan,
aku hanya mengembalikan
apa yang sejak awal berasal dari-Mu.
Sebab yang lahir dari kasih-Mu
tak pernah benar-benar pergi.
Jika rindu datang seperti ombak malam,
aku memilih diam dan berdoa.
Sebab aku percaya,
Engkau lebih mampu menjaga
daripada segala kekuatanku.
Terimalah titipanku, Tuhan,
di rumah-Mu yang penuh damai.
Dan kuatkan aku yang masih Kau biarkan berlayar,
hingga waktuku tiba
untuk pulang dalam pelukan-Mu.













