Sekolah di Wilayah Bencana Sumatra Bangkit, KBM Tatap Muka Kembali Normal
Jakarta, pelitanusantara.com — Pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak bencana di Sumatra menunjukkan perkembangan signifikan. Pemerintah memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) kini berangsur kembali normal, dengan pelaksanaan pembelajaran tatap muka yang semakin luas.
Langkah percepatan ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pihak sekolah dalam memastikan hak pendidikan peserta didik tetap terpenuhi di tengah kondisi pascabencana.
Di Sumatra Utara, proses pemulihan berjalan cukup cepat. Kepala UPTD SD Negeri 158498 Aek Tolang, Hayati, mengungkapkan bahwa kegiatan belajar telah kembali berlangsung normal sejak Januari 2026. Sebelumnya, siswa sempat mengikuti pembelajaran di tenda darurat pada Desember 2025.
“Sejak Januari 2026, kegiatan belajar sudah berjalan seperti biasa di sekolah,” ujar Hayati dalam keterangannya.
Selain itu, sekolah juga menerapkan metode pembelajaran adaptif dengan penyesuaian kurikulum serta sistem asesmen yang lebih fleksibel. Kebijakan ini mengacu pada panduan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah guna memastikan proses belajar tetap efektif meski dalam masa transisi.
Dukungan pemerintah juga terus mengalir, mulai dari bantuan kebersihan lingkungan, kebutuhan siswa, hingga rehabilitasi sarana pendidikan. Pembangunan ruang kelas baru, perbaikan fasilitas sanitasi, serta penataan lingkungan sekolah menjadi bagian dari upaya pemulihan menyeluruh.
Sementara itu, di Sumatra Barat, semangat belajar tetap terjaga meski dalam keterbatasan. SMAN 1 Batang Anai tetap melaksanakan KBM dengan memanfaatkan lokasi sementara seperti asrama haji dan tenda darurat.
Kepala sekolah, Zulbaidah, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan penyesuaian durasi belajar serta memprioritaskan materi esensial agar siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran secara optimal.
Pemulihan pendidikan juga diperkuat melalui dukungan lintas sektor. Bantuan biaya normalisasi, distribusi kebutuhan siswa, layanan trauma healing, hingga penyediaan ruang belajar sementara menjadi bagian penting dari proses ini. Pemerintah daerah turut mempercepat normalisasi wilayah dengan dukungan alat berat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa pendidikan harus tetap berjalan dalam kondisi apa pun.
“Pendidikan tidak boleh berhenti, bahkan dalam situasi bencana sekalipun. Yang kita bangun bukan hanya fasilitas, tetapi juga harapan dan semangat belajar anak-anak,” tegasnya.
Dengan kolaborasi yang kuat antar pemangku kepentingan, pemulihan pendidikan di wilayah terdampak bencana tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada keberlanjutan kualitas pembelajaran serta ketahanan sistem pendidikan nasional ke depan.
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi













