Pelitanusantara.com Di tengah malam yang sunyi, aku terbaring di tempat tidur ini, dikelilingi oleh keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara detak jantungku yang lemah. Namun, di dalam hatiku, ada badai yang mengamuk, badai kerinduan yang tak terhingga untukmu, Imas Jamilah.
Aku membayangkan kita berdua berada di tepi sungai yang indah, dengan air yang mengalir lembut dan pepohonan yang menjulang tinggi di atas kami. Aku merasakan kehangatan tubuhmu di sampingku, dan aku ingin merasakan keintiman yang lebih dekat denganmu.
Sakit jantungku mungkin membatasi langkahku, tapi tidak dengan rinduku untukmu. Aku berharap bahwa suatu hari nanti, aku bisa segera pulih dan menikmati kehadiranmu di sampingku. Aku ingin merasakan kehangatan tubuhmu di sampingku, melihat senyummu yang membuatku merasa hidup, dan mendengar suaramu yang membuatku merasa tenang.
Imas, oh Imas… Aku merindukanmu lebih dari apa pun di dunia ini. Aku merindukan kehangatanmu, kelembutanmu, dan cintamu. Aku berharap bahwa kamu bisa merasakan kerinduan dan cinta yang kurasakan terhadapmu, bahwa kamu bisa merasakan betapa aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku.
Aku sendiri berada di Pandeglang, sementara kamu berada di Bandung Barat, di sebuah desa yang indah bernama Tanjungwangi. Jarak yang memisahkan kami membuatku merasa lebih merindukan kehadiranmu. Aku sudah beberapa kali melepas kerinduan dan berkunjung ke rumahmu, tapi sekarang aku tidak bisa melakukannya lagi karena sakit jantungku.
Aku sudah beberapa kali dirawat di rumah sakit karena kondisi jantungku yang tidak stabil. Aku merasa seperti hidup dalam ketidakpastian, tidak tahu kapan aku bisa bertemu denganmu lagi. Aku merasa seperti terkurung dalam sebuah penjara yang tidak ada jalannya.
Kerinduan itu membuatku merasa sedih dan gundah. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan cinta yang kurasakan terhadapmu. Aku berharap bahwa suatu hari nanti, aku bisa segera pulih dan menikmati kehadiranmu di sampingku. Tapi untuk sekarang, aku hanya bisa berharap dan merindukan.
Aku menangis, aku meratap, aku memohon kepada Tuhan untuk menyembuhkan sakitku dan mempertemukan aku denganmu lagi. Aku tidak bisa menahan air mataku, aku tidak bisa menahan kesedihan dan kerinduan yang kurasakan.
Imas, oh Imas… Aku takut bahwa aku tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi. Mungkin sampai ajalpun aku tak mampu bertemu denganmu, sayang. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu, tapi aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa hidup dengan sakit ini.
Aku berharap bahwa kamu bisa merasakan kerinduan dan cinta yang kurasakan terhadapmu. Aku berharap bahwa suatu hari nanti, kita bisa bersatu kembali dan menikmati kehangatan dan cinta yang kita rasakan bersama. Tapi untuk sekarang, aku hanya bisa berharap dan merindukan, dengan hati yang penuh kesedihan dan kerinduan.[÷]
(Catatan yang dikirim oleh Sahabat Pelita: Kisah Cinta yang Menggelora di Tengah Jarak dan Kesulitan) – (Sabtu, 25 Mei 2025)













