Rindu yang Tidak Menemukan Alamat
Sejak kepergian Kirno, Imas Jamilah hidup dengan dua perasaan yang saling bertabrakan: rindu yang terus tumbuh dan kehilangan yang tak pernah benar-benar surut. Ada hari-hari ketika ia bangun dengan dada yang terasa sesak, seolah udara di sekelilingnya terlalu tipis untuk bernapas. Pada hari-hari seperti itu, ia ingin bertemu—ingin sekali—meski tahu pertemuan itu tak lagi mungkin.
Rindu datang tanpa aba-aba. Ia hadir di sela-sela kesibukan, di antara bunyi sendok yang mengaduk teh, di langkah kaki yang menyusuri jalan basah setelah hujan. Imas sering berhenti sejenak, membayangkan Kirno berjalan di sampingnya, seperti dulu. Ia ingin menoleh dan berkata sesuatu yang sederhana: “Kamu sudah makan?” Kalimat yang dulu biasa, kini menjadi doa yang tak punya tujuan.
Kehilangan itu menyesakkan karena tak memberi kesempatan untuk mengulang. Tak ada pertemuan terakhir yang bisa dipeluk kembali. Tak ada tatap mata yang bisa ditambal dengan maaf. Yang ada hanya ruang kosong—dan di ruang itulah rindu berkembang, liar dan sunyi.
Suatu malam, hujan turun pelan. Imas duduk di dekat jendela, menatap rintik yang berlomba jatuh. Ia berbicara dalam hati, seolah Kirno bisa mendengar. Bukan untuk meminta kembali, melainkan untuk menyampaikan bahwa cintanya belum selesai, hanya berpindah bentuk. Rasa sesak itu tak hilang, tetapi ia belajar menerimanya sebagai bagian dari mencintai seseorang yang telah pergi.
Ia tahu, rindu ini tak akan menemukan alamat. Namun ia juga tahu, rasa ingin bertemu—meski mustahil—adalah bukti bahwa cinta pernah hidup dengan sungguh-sungguh. Dan di antara napas yang tertahan dan air mata yang datang sesekali, Imas Jamilah memilih bertahan. Bukan karena rindu telah reda, melainkan karena ia belajar hidup bersama rindu itu—pelan, jujur, dan penuh hormat.













