Pelitanusantara.com Di tengah hiruk pikuk abad ke-17, Jawa Timur menjadi saksi bisu dari ambisi besar Sultan Agung, penguasa Mataram yang haus akan kekuasaan. Mataram, dengan kekuatan militer yang perkasa, bertekad untuk menaklukkan seluruh wilayah Jawa di bawah kendali mereka. Salah satu target utama adalah Kadipaten Surabaya, kekuatan paling tangguh di Jawa Timur yang juga menjadi pusat ekonomi dan perdagangan yang berkembang pesat.
Menurut catatan sejarah, Perang Brang Wetan yang berlangsung selama lima tahun ini menelan korban jiwa ribuan orang. Sultan Agung sangat berambisi untuk menyatukan Jawa di bawah kekuasaan Mataram, dan penaklukan Surabaya merupakan langkah penting dalam mencapai tujuan tersebut.
Serangan Pertama: Kegagalan yang Menghantui
Pada tahun 1620, Sultan Agung melancarkan serangan pertama terhadap Surabaya. Dengan kekuatan 70.000 prajurit, Mataram yakin dapat menaklukkan Surabaya dengan mudah. Namun, pasukan Surabaya yang tangguh dan berpengalaman dalam pertempuran, berhasil mematahkan serangan besar-besaran ini. Kegagalan ini tidak membuat Sultan Agung menyerah. Ia yakin bahwa dengan strategi yang tepat, Mataram dapat menaklukkan Surabaya.
Serangan Kedua: Strategi Memutus Pasokan
Pada Juli–Agustus 1622, Mataram kembali melancarkan serangan kedua. Kali ini, strategi yang digunakan adalah memutus pasokan makanan dan jalur dagang dari Madura. Dengan 80.000 prajurit, Mataram yakin dapat melemahkan posisi Surabaya. Walaupun gagal menaklukkan Surabaya secara langsung, serangan ini cukup melemahkan posisi Kadipaten.
Serangan Ketiga: Api dan Darah di Gresik
Pada gelombang ketiga, Mataram menyiapkan 30 kapal perang dan menyerang Gresik terlebih dahulu. Penyerangan dipimpin oleh Tumenggung Alap-Alap, dan baru dimulai pada 1624. Api dan darah membakar Gresik, mengakibatkan kerusakan besar. Namun, penyerangan ke Surabaya kembali gagal.
Serangan Keempat: Madura, Kunci Kemenangan
Fokus utama serangan keempat adalah Madura, karena wilayah itu menjadi penopang utama logistik dan pasukan Surabaya. Pasukan Mataram harus menghadapi gabungan prajurit dari Madura, Surabaya, dan wilayah-wilayah lain di Jawa Timur. Setelah perlawanan sengit, pasukan Mataram akhirnya berhasil mengalahkan prajurit Madura. Kemenangan ini membuka peluang bagi Mataram untuk menaklukkan Surabaya.
Serangan Kelima: Strategi Jitu yang Mengakhiri Perlawanan
Serangan terakhir sekaligus penentu dilakukan pada 1625. Dipimpin oleh Mangun Oneng, dan diperkuat oleh Tumenggung Yudha Prana dan Tumenggung Ketawang. Pasukan Mataram membangun bendungan dan mengisinya dengan mayat prajurit dan buah aren untuk mencemari air yang mengalir ke Surabaya. Strategi ini terbukti efektif, dan pasukan Surabaya akhirnya menyerah.
Kemenangan yang Mengubah Sejarah
Penaklukan Surabaya oleh Mataram menandai berakhirnya dominasi Surabaya dan kemenangan telak bagi Mataram. Sultan Agung berhasil mewujudkan ambisinya untuk menyatukan Jawa di bawah kekuasaan Mataram. Pertempuran epik ini menjadi saksi bisu dari kekuatan militer dan taktik perang yang canggih pada masa itu. Dengan kemenangan ini, Mataram menjadi kekuatan dominan di Jawa, dan sejarah pulau tersebut pun berubah selamanya.
Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa penaklukan Surabaya ini merupakan salah satu pencapaian terbesar Sultan Agung dalam upaya menyatukan Jawa. Dengan kekuatan militer dan strategi yang tepat, Mataram berhasil menaklukkan salah satu kekuatan paling tangguh di Jawa Timur. [÷]













