Pelitanusantara.com Di balik tirai sejarah yang terlipat, tersembunyi kisah tentang seorang raja muda yang pemberani dan gigih. Sunan Kuning, nama yang mungkin tidak asing bagi sebagian orang, namun kisahnya seringkali terlupakan dalam catatan sejarah. Pada abad ke-18, di tengah-tengah kejayaan Kesultanan Mataram Islam, muncul sebuah kisah pilu tentang seorang putra raja yang namanya hampir tenggelam oleh arus sejarah—Sunan Kuning.
Nama aslinya adalah Raden Mas Garendi, putra dari Pangeran Teposono cucu Amangkurat III Keturunan dari Panembahan Senopati pendiri Mataram. Tragedi besar pada tahun 1740, Perang Pecinan di Batavia, menjadi titik balik dalam kisah Sunan Kuning. Ribuan orang Tionghoa dibantai oleh VOC, dan para pelarian mencari perlindungan ke Jawa Tengah dan bergabung dengan kelompok bangsawan yang kecewa pada Mataram dan Belanda.
Di sinilah nama Raden Mas Garendi muncul, dan para pemberontak mengangkatnya sebagai Raja Mataram bergelar Sunan Amangkurat V, atau yang kemudian dikenal rakyat sebagai Sunan Kuning. Sunan Kuning memimpin perlawanan besar dari Kartasura hingga pedalaman Jawa, dielu-elukan rakyat sebagai simbol perlawanan terhadap VOC dan penguasa boneka yang tunduk pada Belanda.
Perlawanan ini berlangsung selama tiga tahun, dari 1740 hingga 1743, dan Kartasura porak poranda, istana terbakar, dan Mataram terguncang hebat. Namun, takdir berkata lain, perlawanan besar itu akhirnya dipatahkan oleh VOC, dan Sunan Kuning ditangkap dan dibuang ke Batavia.
Meski demikian, namanya tetap menjadi legenda yang menakutkan bagi VOC. Rakyat kemudian memberi dimensi lain pada sosok Raden Mas Garendi, ia dipandang bukan hanya sebagai raja muda yang terbuang, tetapi juga seorang tokoh spiritual yang diselimuti aura keramat. Di Semarang, makamnya dikenal sebagai Makam Sunan Kuning, dan hingga kini, tempat itu tak pernah sepi dari peziarah yang percaya bahwa raja muda Mataram itu memiliki karomah dan kekuatan gaib.
Kisah Sunan Kuning adalah gambaran getirnya perebutan kuasa, perselingkuhan politik dengan bangsa asing, serta penderitaan rakyat yang terhimpit di antara dua kepentingan. Namun dari balik kisah itu, kita melihat sebuah cahaya: bahwa seorang raja sejati bukan hanya mereka yang berkuasa di istana, melainkan mereka yang dikenang rakyat sebagai simbol perlawanan dan keadilan.
Sunan Kuning, sang raja muda yang tak pernah lama bertahta, telah meninggalkan pesan abadi: bahwa kedaulatan sejati ada di tangan rakyat, bukan di bawah bayang-bayang penjajah. Dengan mengenang kisah Sunan Kuning, kita dapat memahami betapa pentingnya peranannya dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Semoga kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berjuang melawan ketidakadilan dan memperjuangkan hak-hak kita.
Sumber:
– Catatan sejarah Mataram Islam
– Buku-buku sejarah Jawa
– Cerita rakyat tentang Sunan Kuning













