Peran Keluarga sebagai Lembaga Pendidikan Seksual Anak Sejak Dini

Pelitanusantara.com 

Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab adalah kebenaran tertinggi dan tidak pernah salah! All truth is God’s truth. Pernyataan ini sejalan dengan pernyataan Augustine dalam On Christian doctrine : “…wherever truth may be found, it belongs to his Master.” John Calvin juga menyatakan bahwa “All truth is from God.”

Hal ini perlu ditegaskan mengingat begitu banyaknya penyimpangan terhadap nilai-nilai Alkitabiah yang menggoncang dasar iman orang percaya. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa pernikahan bukan produk suatu budaya; justru pernikahan lah yang mengawali kebudayaan manusia. Firman Tuhan di Kejadian 1:28 “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” menegaskan bahwa pernikahan manusia pertama yang diikuti dengan perintah untuk berkuasa atas bumi dan semua isinya, merujuk pada perintah Tuhan yang dikenal dengan cultural mandate.

Cultural mandate atau amanat kebudayaan yang diemban dalam sebuah pernikahan merupakan ketetapan Tuhan atas manusia dalam rancangan kekekalan-Nya demi menuntaskan tujuan-Nya, yaitu membawa budaya Kerajaan Allah di bumi seperti di Surga. Oleh karena itu, orang percaya yang diberi anugerah sebagai suami atau istri sekaligus sebagai orangtua, harus mengerti betul posisi rohani mereka sebagai ‘guru pertama’ yang akan ditemui atau dimintai jawab oleh anak-anaknya dalam berbagai hal yang muncul di kehidupan mereka. Tuhan sangat menghargai anak-anak kecil, karena itu di Markus 9:42 (TPT) dinyatakan

But if anyone abuses (entraps, holds in bondage, enslaves, engages in child trafficking. Aramaic : confuses or misleads) one of this little ones who believe in me, it would be better for him to have a heavy boulder (the upper millstone turned by a donkey) tied around his neck and be thrown into the sea than to face the punishment he deserves (it would be better for him not to even be born).” Tuhan tegas sekali menyatakan bahwa orang yang menyesatkan anak kecil, lebih baik tidak dilahirkan.

Kebenaran ini menjadi peringatan keras kepada setiap orangtua untuk benar-benar bertanggung jawab dalam mendidik anaknya.  Menjadi orangtua memang tidak mudah, apalagi di tengah zaman yang semakin tidak memiliki garis batas yang jelas antara yang benar dan salah. Dalam kaitannya dengan pendidikan seksual, setiap orangtua dipanggil untuk menjadikan keluarga/rumah sebagai ruang kelas pertama dan utama untuk anak-anak menerima didikan yang benar sejak dini. Sama seperti Tuhan memerintahkan orang Israel dalam Ulangan 6:6-7

“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Dari sini kita bisa mengetahui bahwa amanat kebudayaan harus diajarkan kepada anak-cucu, selanjutnya anak-cucu akan terus mengembangkan dan menemukan cara-cara yang lebih baik sesuai dengan generasinya untuk mengajarkannya kembali kepada generasi berikutnya. Dengan pola seperti ini, maka kebudayaan manusia akan berkembang sesuai pola Tuhan. Melalui dasar Firman tersebut, orangtua Kristiani memiliki keteguhan hati untuk meruntuhkan sistem yang canggung (tabu) untuk membicarakan seputar seksualitas kepada anak-cucu kita.

 “My people will be destroyed, because they have no knowledge. You have refused to learn, so I will refuse to let you be priests to me. You have forgotten the teachings of your God, so I will forget your children.” Hosea 4:6 (NCV)

Mengingatkan kembali kepada kita bahwa pengetahuan haruslah dimiliki oleh anak-cucu kita. Orangtua bertanggung jawab atas hal tersebut sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Ulangan 6:6-7. Pengetahuan yang asalnya darimana? Tentu saja yang bersumber dari Firman Tuhan (teachings of your God), “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105).

Ada tiga pengetahuan seksual penting yang harus diterima anak sejak dini dari keluarga/rumah – dan hal ini terkait erat dengan amanat kebudayaan Tuhan kepada setiap keluarga.

Identitas seksual yang sehat

Seks merupakan bagian dari kemanusiaan kita yang sangat esensial. Dalam Medical Dictionary, seks adalah the structural and functional characteristics of a person or organism that allow assignment as either male or female; sex is determined by chromosomes, hormones and external and internal genitalia (gonads). Kejadian 1:26-27 berkata

“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Jadi, science sejalan dengan Alkitab, memberikan batasan yang jelas bahwa hanya ada dua jenis kelamin (seks), yaitu laki-laki dan perempuan. Lebih jauh lagi science menyatakan, kedua jenis kelamin ditentukan oleh kromosom, hormon dan organ kelamin eksternal dan internalnya. Inilah yang membentuk perbedaan karakteristik laki–laki dan perempuan, baik secara struktural (anatomi) maupun fungsinya (biologis dan sosial).

Orangtua (ayah dan ibu) harus menjadi contoh pertama dan utama bagi anaknya dalam menunjukkan identitas seksual yang sehat. Hal ini dicapai dengan melaksanakan fungsi masing-masing, sehingga anak dapat memahami perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan – terhindar dari kebingungan gender. Seorang ayah harus mampu memenuhi perannya sebagai father, priest, prophet, provider, protector.

Orientasi seksual yang normal

Orientasi seksual yang normal adalah heteroseksual, dimana seorang laki-laki tertarik kepada perempuan atau sebaliknya. Identitas seksual yang sehat berkaitan erat dengan kenormalan orientasi seksual. Orangtua harus mampu menciptakan gambaran yang kuat dan jelas kepada anak-anaknya bahwa mereka adalah dua insan yang tertarik secara seksual satu sama lain. Hal ini menantang para orangtua untuk konsisten mengekspresikan cinta antara suami-istri di depan anak-anak (misal : saling memuji, mencium pipi/kening pasangan). Seiring perkembangan usianya, anak-anak akan mengetahui bahwa fungsi reproduksi dalam sebuah pernikahan hanya dapat dicapai oleh suami-istri bila orientasi seksualnya adalah heteroseksual.

Relasi pernikahan yang logis

Relasi pernikahan yang logis yaitu antara seorang laki-laki dan seorang perempuan – keduanya memiliki orientasi seksual yang hetero, diberkati Tuhan menjadi suami-istri untuk membangun suatu keluarga yang memungkinkan adanya jaminan atas kehidupan anak-anak yang dilahirkan. Pada akhirnya terjadi progresifitas atas amanat kebudayaan antar generasi.

Uraian di atas memberikan tugas baru kepada para orangtua untuk senantiasa menyediakan dirinya diperlengkapi dengan berbagai pengetahuan  seksual yang alkitabiah, sehingga tercapai kehidupan seksual anak yang sehat.

Penulis : Friska A. Zai, S.K.M (Pendidik di Sekolah Tunas Pertiwi dan Mahasiswa Program Magister Ilmu Biomedik FK UI)

Daftar Pustaka :

  1. Alkitab
  2. Wijaya, Andik. (2018). Biblicomedic Perspective On LGBTIQ. A Biblical and Medical Review of Sex, Gender, and Sexuality. Surabaya : YADA Institute.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *