PAPA, AKU MASIH MENUNGGUMU
Papa,
kau pergi saat aku masih anak-anak.
Dua belas tahun—
usia ketika seorang anak
belum tahu cara kehilangan,
tapi dipaksa hidup tanpamu.
Sejak 1986,
aku belajar menahan tangis.
Belajar kuat sebelum waktunya.
Dan Mama…
Mama yang kau tinggalkan,
menjadi satu-satunya tempat pulang
yang kupunya.
Ia menangis diam-diam, Papa.
Ia menua oleh lelah dan doa.
Ia menggantikan segalanya
tanpa pernah mengeluh.
Aku bertahan karena Mama
bertahan lebih dulu.
Namun pada 10 Januari 2023,
Papa…
Mama pun pergi.
Dan di sanalah aku runtuh
sepenuhnya.
Kini aku benar-benar yatim.
Bukan karena usia,
tapi karena dunia
tak lagi menyisakan
tempat untuk memanggil
“Pa…”
atau
“Ma…”
Aku lima puluh dua tahun sekarang.
Sudah berumah tangga,
sudah menjadi ayah.
Namun di hadapan kehilangan ini,
aku tetap anak kecil
yang kehilangan segalanya.
Papa,
Mama sudah menyusulmu.
Aku membayangkan kalian bertemu,
berbincang tentang kami,
tentang aku—
anak yang ditinggalkan terlalu cepat
oleh takdir.
Aku ingin sekali bertemu kalian.
Bukan untuk meminta hidup diulang,
bukan untuk menyalahkan Tuhan.
Aku hanya ingin duduk di antara kalian,
menyandarkan kepala,
dan menangis
tanpa harus kuat.
Ada rindu yang tak bisa dijelaskan,
karena tak ada lagi
tempat mengadu.
Ada sakit yang tak bisa sembuh,
karena kedua obatnya
telah pergi.
Papa…
Mama…
jika pertemuan itu kelak nyata,
tolong peluk aku lama.
Sebab di dunia ini,
aku telah belajar bertahan
tanpa kalian
terlalu lama.
Dan jika hari itu belum tiba,
izinkan aku menunggu
dengan rindu yang penuh luka,
namun cinta yang tak pernah mati.
Oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)













