Natal BMPTKKI Jadi Wake-Up Call: Kampus Kristen Diminta Hadir Saat Keluarga Mulai Runtuh

Kefaspelita
IMG 20260117 WA0038
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Natal BMPTKKI Jadi Wake-Up Call: Kampus Kristen Diminta Hadir Saat Keluarga Mulai RuntuhIMG 20260117 WA0039

Jakarta, 17 Januari 2026 — Di saat banyak perayaan Natal berlomba tampil meriah dan penuh dekorasi, Natal yang digelar Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia (BMPTKKI) justru mengambil jalur berbeda. Bukan sekadar selebrasi, tetapi alarm keras tentang kondisi keluarga Indonesia yang kian rapuh.

Digelar di Aula Sinode GBI, Jakarta, Natal BMPTKKI berubah menjadi ruang refleksi bersama antara iman, pendidikan, dan realitas sosial. Pesannya jelas: kampus Kristen tidak boleh diam ketika keluarga goyah dan generasi muda kehilangan arah.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI, Jeane Marie Tulung, menyampaikan pesan yang lugas dan terasa menampar kesadaran. Ia menyoroti fenomena fatherless, krisis keteladanan, serta maraknya kasus penyimpangan yang justru melibatkan figur pendidik dan tokoh agama.

“Anak-anak dan mahasiswa menjadi korban. Ini bukan isu sensasional, tapi masalah serius yang harus dijawab bersama,” tegasnya.

IMG 20260117 WA0037

Natal BMPTKKI tahun ini terasa “tidak biasa”. Tidak ada pidato normatif panjang atau euforia berlebihan. Yang muncul justru kejujuran dan keprihatinan.

Menariknya, kehadiran Dirjen Bimas Kristen dalam acara ini bertepatan dengan momen pribadinya, beberapa hari setelah ulang tahun pada 15 Januari. Namun panggung Natal tidak diisi dengan ucapan selamat, melainkan seruan tanggung jawab moral.

Pesan yang disampaikan sederhana tapi kuat: pendidikan tinggi Kristen harus menjadi solusi, bukan penonton.

Ketua Umum BMPTKKI, Pdt. Prof. Dr. Stevry I. Lumintang, mengakui bahwa secara akademik perguruan tinggi Kristen sedang berada di jalur positif. Akreditasi meningkat, jumlah dosen senior bertambah, dan konsolidasi kelembagaan semakin rapi.

Namun ia mengingatkan, prestasi akademik tidak boleh membuat kampus kehilangan kepekaan sosial.

“Kampus boleh maju, tapi nilai-nilai harus tetap dijaga,” ujarnya singkat.

Saat ini BMPTKKI menaungi lebih dari 200 perguruan tinggi keagamaan Kristen di Indonesia dan tengah mendorong program pendampingan dosen serta penguatan mutu pendidikan.

Natal BMPTKKI juga mengangkat isu yang jarang muncul dalam perayaan Natal arus utama: hubungan iman dengan alam. Dalam khotbahnya, Pdt. Rubin Adi menegaskan bahwa kasih Allah tidak berhenti pada manusia, tetapi mencakup seluruh ciptaan.

 

“Alam bukan objek eksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga,” ujarnya.

Pesan ini diperkuat lewat puisi bertema ekoteologi yang dibacakan Sekretaris Umum BMPTKKI, serta penampilan paduan suara dari STT Amanat Agung dan STT Apolos yang memberi nuansa reflektif dan menyentuh.

Ketua Panitia Natal BMPTKKI, Pdt. Dr. Junior Natan Silalahi, menyebut Natal kali ini sebagai Natal yang “mengajak sadar, bukan sekadar terharu”.

Di tengah banjir konten Natal yang serba indah di media sosial, Natal BMPTKKI justru memilih jalur sunyi namun bermakna: mengajak semua pihak berhenti sejenak, bercermin, dan bertanya—masihkah kita menjaga keluarga, iman, dan masa depan bersama?


Jurnalis: Romo Kefas