Monolog Ayah: Tentang Rindu yang Tak Pernah Pulang Tepat Waktu

Kefaspelita
File 000000001e2c7209a92f69d824209269
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Monolog Ayah: Tentang Rindu yang Tak Pernah Pulang Tepat Waktu

Nak…
jika malam ini kalian tertidur tanpa aku di sampingmu,
percayalah—aku tidak benar-benar pergi.

Aku ada di sini.
Di antara detak jam yang terlalu pelan,
di kursi yang terasa lebih dingin dari biasanya,
di dada yang harus kuat meski hatinya rapuh.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Ayah melihat kalian tertidur berpelukan.
Yang satu bersandar, yang satu menggenggam,
seolah dunia bisa runtuh kalau kalian saling melepaskan.
Dan saat itu, ayah kalah.
Bukan oleh lelah,
tetapi oleh rindu yang tak tahu harus ke mana.

Nak…
tidak ada satu pun hari ketika ayah memilih pergi karena tidak cinta.
Justru karena cinta itu,
ayah sering harus berjalan menjauh.

Ayah ingin ada di setiap pagi kalian.
Mengantar, mendengar cerita kecil yang tak pernah masuk berita,
menjadi orang pertama yang kalian cari saat takut.
Tapi hidup…
hidup sering meminta ayah menjadi kuat sendirian,
agar kalian kelak tidak perlu.

Kadang ayah bertanya pada diri sendiri:
apakah pengorbanan ini akan kalian pahami?
Atau hanya akan tercatat sebagai ketidakhadiran?

Nak…
jika suatu hari kalian merasa rumah ini sunyi,
itu bukan karena cinta berkurang,
melainkan karena ayah menaruhnya terlalu jauh—
di doa,
di kerja,
di diam yang tak sempat terucap.

Ayah tahu,
kalian belum mengerti kata “kehilangan”.
Tapi tubuh kalian sudah belajar merindu.
Dan itu yang paling menyakitkan bagi ayah.

Maafkan ayah…
jika pelukan sering terlambat.
Jika suara ayah lebih sering hadir lewat ingatan daripada kenyataan.
Jika kursi ini kosong saat kalian membutuhkannya.

Namun dengarkan ini baik-baik, Nak—
ayah tidak pernah berhenti pulang.
Hanya saja, jalannya panjang,
dan waktunya sering tidak adil.

Jika suatu hari nanti kalian dewasa
dan dunia meminta kalian memilih antara hadir dan bertanggung jawab,
ingatlah ayah—
bukan untuk membenarkan kepergianku,
tetapi untuk tahu:
bahwa cinta sejati kadang harus bertahan dalam jarak.

Ayah mencintai kalian…
bahkan ketika ayah tidak ada di sana.
Bahkan ketika rindu ini harus tidur lebih dulu daripada pelukan.