Menguak Tabir Sejarah: Mama Cibogo dan Peranannya dalam Kemerdekaan Indonesia

Kefaspelita
Images (2)
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Di balik tabir sejarah kemerdekaan Indonesia, terdapat banyak tokoh yang berperan penting dalam perjuangan bangsa. Salah satu di antaranya adalah Mama Cibogo, seorang ulama dan pejuang kemerdekaan yang berpengaruh di Indonesia. Melalui kisahnya, kita dapat memahami bagaimana perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dilakukan oleh tokoh-tokoh nasional, tetapi juga oleh tokoh-tokoh lokal yang memiliki peran penting dalam sejarah bangsa.

Mama Cibogo, atau KH Raden Ma’mun Nawawi, lahir pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M di Cibogo, Cibarusah, Bekasi. Ia memulai pendidikannya di usia 15 tahun dengan belajar di pesantren yang diasuh oleh Tugabus Bakri bin Seda (Mama Sempur) di Plered Sempur Purwakarta selama 7 tahun. Setelah itu, ia melanjutkan studinya ke Mekkah selama 2 tahun dan berguru pada lebih dari 13 muallif, termasuk al-Muhaddits as-Sayyid Alawi al-Maliki dan Mama KH. Mukhtar Ath Tharid.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Pada masa kolonial Belanda, Indonesia sedang mengalami penjajahan yang berat. Banyak rakyat Indonesia yang menderita akibat kebijakan kolonial yang tidak adil. Di tengah-tengah kesulitan ini, munculah para pejuang kemerdekaan yang berjuang untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan. Mama Cibogo adalah salah satu di antaranya, yang memiliki peran penting dalam catatan sejarah kemerdekaan Indonesia.

Mama Cibogo memiliki peran penting dalam Laskar Hizbullah, sebuah organisasi yang dibentuk oleh para kiai dan santri pada masa menjelang kemerdekaan Indonesia. Berbekal kedekatan dengan sang guru, Hadlratussyaikh Hasyim Asy’ari dan anaknya K.H Wahid Hasyim, Cibarusah didaulat menjadi tuan rumah pusat pelatihan Laskar Hizbullah pada masa revolusi dan reformasi kemerdekaan Indonesia. Pasukan Laskar Hizbullah yang dipimpin oleh Mama Cibogo berasal dari wilayah Cibarusah, Bekasi, dan sekitarnya, dan mereka berjuang melawan penjajah Belanda di daerah tersebut dan sekitarnya, termasuk dalam beberapa pertempuran penting.

*”Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.”* Ini adalah salah satu statemen yang paling terkenal dari Mama Cibogo, yang menekankan pentingnya mengamalkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Mama Cibogo juga produktif menulis kitab-kitab yang mencakup keilmuan Islam dalam bidang Hadis, fikih, astronomi (falak), sastra, dan lain-lain. Tidak kurang dari 63 karya lahir dari “tangan dingin” beliau, termasuk kitab falak, kitab hadis, dan kitab lainnya seperti Hikayat al-Mutaqaddimin, Kasyf al-Humum wal Ghumum, Majmu’at Da’wat, Risalah Zakat, Syair Qiyamat, dan Risalah Syurb ad-Dukhan.

Mama Cibogo wafat pada malam Jum’at 26 Muharram 1395 H pukul 01.15 WIB yang bertepatan dengan tanggal 7 Februari 1975 M di Cibogo pada usia 63 tahun. Pondok pesantrennya saat ini diteruskan oleh salah satu putranya, KH. Jamaluddin Nawawi. Warisannya tetap hidup dalam bentuk semangat juang dan karakter kuat yang ia tanamkan pada para pejuang kemerdekaan dan santri.

Kisah Mama Cibogo dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadi pejuang kemerdekaan dan ulama yang berpengaruh. Ia menunjukkan bahwa dengan pengetahuan, karakter kuat, dan semangat juang, kita dapat membuat perbedaan besar dalam masyarakat dan negara. Mari kita kenang dan pelajari dari kisah Mama Cibogo, dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menjadi pemimpin dan pejuang kemerdekaan yang berpengaruh.

(*)