Mengenal Ibnu Hadjar: Pejuang yang Berakhir sebagai Pemberontak

Kefaspelita
Fb img 1758069608837
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Di balik riwayat sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terdapat nama-nama pahlawan yang patut dikenang dan dijadikan inspirasi. Salah satunya adalah Ibnu Hadjar, seorang pejuang kemerdekaan yang gigih melawan penjajahan Belanda di Kalimantan Selatan. Namun, perjalanan hidupnya penuh dengan liku-liku yang dramatis, dari seorang pejuang yang disegani menjadi seorang pemberontak yang berakhir tragis.

Ibnu Hadjar lahir pada 19 April 1920 di Desa Ambutun, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Ia bergabung dengan ALRI Divisi IV sebagai pejuang gerilya melawan Belanda dan dengan cepat naik pangkat menjadi Letnan Dua karena keberanian dan taktiknya yang cerdas. Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, Ibnu Hadjar merasa dikhianati oleh pemerintah yang tidak mengakui jasa-jasa para pejuang gerilya.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Kekecewaan ini membuat Ibnu Hadjar memutuskan untuk keluar dari barisan resmi dan mendirikan kelompok sendiri bernama Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRjT) pada tahun 1950. Awalnya, tujuannya adalah menuntut hak-hak veteran, tapi situasi kemudian memburuk dan berubah menjadi aksi bersenjata. Pada tahun 1954, ia bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo.

Pasukan Ibnu Hadjar melakukan berbagai serangan dan penyergapan terhadap pemerintah, tetapi kekuatannya semakin melemah karena operasi militer yang intensif dan kurangnya dukungan rakyat. Pada Juli 1963, Ibnu Hadjar menyerah dengan harapan mendapatkan amnesti, tapi malah ditangkap dan diadili. Pada 11 Maret 1965, ia divonis mati dan dieksekusi pada 22 Maret 1965.

Kisah Ibnu Hadjar meninggalkan warisan yang terbelah. Di mata pemerintah pusat, ia adalah seorang pemberontak, tapi di Kalimantan Selatan, banyak yang mengenangnya sebagai pejuang yang dikhianati oleh sejarah. Ia menjadi simbol betapa getirnya nasib sebagian pejuang yang mengorbankan jiwa raga demi negara, tapi kemudian tersisih dan tidak diakui.

Kisah Ibnu Hadjar mengajarkan kita untuk selalu intropeksi hati dan memahami kompleksitas sejarah. Ia menunjukkan bahwa garis antara pahlawan dan pemberontak terkadang ditentukan bukan oleh niat, melainkan oleh politik dan kekuasaan. Oleh karena itu, kita harus selalu berhati-hati dalam menilai seseorang atau suatu peristiwa, karena seringkali terdapat banyak sisi yang tidak terlihat.

Kisah Ibnu Hadjar juga mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai jasa-jasa para pejuang kemerdekaan dan memahami kompleksitas sejarah. Ia menjadi simbol betapa getirnya nasib sebagian pejuang yang mengorbankan jiwa raga demi negara, tapi kemudian tersisih dan tidak diakui. Oleh karena itu, kita harus selalu menghargai jasa-jasa para pejuang kemerdekaan dan memahami kompleksitas sejarah.

Dengan demikian, kisah Ibnu Hadjar menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk memahami kompleksitas sejarah dan menghargai jasa-jasa para pejuang kemerdekaan. Ia mengajarkan kita bahwa garis antara pahlawan dan pemberontak terkadang ditentukan bukan oleh niat, melainkan oleh politik dan kekuasaan.[÷]