MBG Ganti Pemain: Yang Penting Jangan Ganti Nasib Rakyat dengan Alasan Baru

File 0000000029b4720ba8468ad788083dc0
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

MBG Ganti Pemain: Yang Penting Jangan Ganti Nasib Rakyat dengan Alasan Baru

Oleh: Seorang Pengamat Warung Kopi Pinggir Jalan

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Di negeri yang penuh kejutan ini, pergantian pejabat kadang lebih cepat daripada pergantian menu di warteg. Kemarin masih wajah lama, hari ini wajah baru. Kemarin masih rapat evaluasi, hari ini sudah ada pelantikan. Kemarin bilang “semua baik-baik saja”, besoknya malah ganti pemain.

Begitu pula ketika publik mendengar kabar adanya pergantian dalam pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pertanyaan rakyat sederhana saja:

“Yang diganti pemainnya atau strateginya?”

Karena kalau cuma pemain yang diganti sementara pola permainannya tetap sama, itu ibarat tukang tambal ban ganti topi tapi ban bocor tetap bocor.

Masyarakat sebenarnya tidak terlalu peduli siapa yang duduk di kursi empuk. Yang mereka pedulikan adalah apakah anak-anak benar-benar mendapatkan makanan bergizi, apakah anggaran digunakan secara transparan, dan apakah program ini menjadi solusi atau sekadar panggung pencitraan.

Di Bekasi ada istilah warung kopi:

“Kalau sopirnya ganti tapi mobilnya masih mogok, ya penumpangnya tetap telat, Bang.”

Kalimat sederhana itu kadang lebih jujur daripada seribu halaman laporan.

Pergantian pejabat memang hak pemerintah. Evaluasi juga hal yang wajar. Namun yang sering membuat rakyat tersenyum miris adalah ketika setiap pergantian selalu dibungkus dengan kalimat yang sangat indah.

“Untuk optimalisasi.”

“Untuk percepatan.”

“Untuk penguatan tata kelola.”

Kalimat-kalimat itu sudah seperti bumbu penyedap instan. Mau masak apa saja, rasanya sama.

Rakyat kemudian bertanya dalam hati:

“Kalau dari dulu sudah optimal, kenapa diganti? Kalau belum optimal, berarti yang kemarin ngapain aja?”

Nah, di sinilah satir mulai bekerja.

Jangan sampai MBG berubah menjadi singkatan baru:

“Muka Baru, Gaya Lama.”

Karena rakyat sudah terlalu sering menyaksikan pertunjukan semacam itu.

Pemain baru datang dengan semangat membara.

Spanduk baru dipasang.

Foto baru beredar.

Pidato baru dikumandangkan.

Tetapi di lapangan, masalah lama tetap nongkrong santai seperti bapak-bapak ronda habis sahur.

Yang dibutuhkan bukan sekadar pergantian orang, melainkan pergantian budaya kerja.

Bukan sekadar mengganti nama di pintu kantor, tetapi mengganti cara berpikir bahwa jabatan adalah amanah, bukan hadiah.

Anekdot orang Bekasi bilang begini:

“Bang, kalau tukang bakso ganti gerobak mah kagak masalah. Yang penting baksonya jangan berubah jadi pentol angin.”

Begitu juga MBG.

Yang penting bukan siapa yang memegang mikrofon saat konferensi pers.

Yang penting kualitas programnya.

Yang penting makanan sampai kepada yang berhak.

Yang penting uang negara tidak bocor ke mana-mana seperti galon retak.

Karena pada akhirnya rakyat tidak bisa makan janji.

Anak sekolah tidak bisa kenyang dengan konferensi pers.

Dan orang tua tidak bisa tersenyum hanya karena melihat pergantian pejabat di televisi.

Dalam negara demokrasi, kritik bukanlah kebencian. Kritik adalah vitamin agar kekuasaan tidak mengalami obesitas ego.

Pemerintah yang kuat bukan pemerintah yang anti kritik.

Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang berani dievaluasi.

Kalau memang ada yang kurang dalam pelaksanaan MBG, perbaiki.

Kalau ada yang salah, akui.

Kalau ada yang tidak becus, ganti.

Tetapi jangan jadikan pergantian pemain sebagai cara termudah untuk mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih besar.

Sebab rakyat Indonesia sudah semakin cerdas.

Mereka tidak lagi hanya melihat siapa yang berdiri di panggung.

Mereka juga melihat siapa yang bekerja di belakang layar.

Dan seperti kata orang Bekasi yang terkenal lugas:

“Bang, rakyat mah kagak butuh pemain baru tiap musim. Yang rakyat butuh itu hasil pertandingan yang bener.”

Karena ujung dari semua program pemerintah bukanlah tepuk tangan pejabat, melainkan kesejahteraan rakyat.

Kalau pemain berganti tetapi pelayanan membaik, rakyat akan mendukung.

Kalau pemain berganti tetapi masalah tetap sama, rakyat hanya akan berkata:

“Waduh Bang… ini mah bukan ganti pemain, cuma ganti jersey doang.”.