Masakan Mama dan Kerinduan yang Tak Bertepi
Pelitanusantara.com – Ada rindu yang tidak berisik.
Ia tidak menjerit, tidak menuntut, hanya hadir diam-diam—namun menetap. Rindu seperti itulah yang setiap kali datang, selalu membawa saya pulang: pada masakan mama.
Di masa kecil, saya tidak pernah tahu bahwa sepiring makanan bisa menjadi bahasa cinta. Masakan mama hadir tanpa syarat, tanpa janji, tanpa saya sadari nilainya. Ia menemani hari-hari sederhana, menenangkan lelah, dan membuat rumah terasa utuh. Saat itu, saya mengira kehangatan seperti itu akan selalu ada.
Waktu berjalan, dan saya bertumbuh. Hidup menjadi lebih cepat, lebih sibuk. Saya mulai makan tanpa benar-benar merasakan. Mulai pulang tanpa benar-benar hadir. Saya tidak sadar bahwa setiap hari yang terlewat sedang menyimpan rindu untuk masa depan.
Ketika saya menikah dan tinggal di Bogor, sementara mama tetap di Bekasi bersama adik-adik saya, jarak itu perlahan berubah menjadi jarak rasa. Tidak jauh di peta, namun cukup untuk memisahkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu terasa abadi. Sejak saat itu, masakan mama tidak lagi menyertai hari-hari saya.
Di rumah yang baru, kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri. Kadang, istri saya memasak untuk saya. Saya makan dengan rasa syukur, karena cinta hari ini pun nyata. Namun di tengah keheningan suapan, hati saya sering berhenti sejenak—seolah mendengar kembali suara mama, seolah mencium aroma dapur masa kecil yang kini hanya hidup dalam ingatan.
Bukan karena masakan hari ini kurang nikmat,
melainkan karena hati sedang mengingat.
Kini, mama telah tiada. Dan kerinduan itu tidak lagi memiliki arah. Ia tidak bisa disampaikan, tidak bisa dijawab, tidak bisa diselesaikan. Ia hanya tinggal—menjadi sunyi yang setia, menjadi ingatan yang terus hidup.
Saya akhirnya memahami, bahwa yang saya rindukan bukan sekadar masakan. Saya merindukan kehadiran. Saya merindukan rasa aman. Saya merindukan dicintai tanpa harus menjelaskan apa pun.
Dan jujur, saya sangat merindukan masakan mama.
Tulisan ini bukan sekadar cerita—
ini pengakuan hati.
Pengakuan seorang anak yang telah dewasa,
yang telah berumah tangga,
namun tetap menyimpan satu rindu yang tak pernah selesai.
Selama rindu itu ada,
cinta mama akan selalu hidup—
dalam ingatan,
dalam doa,
dan dalam kerinduan yang tak bertepi.













