Pelitanusantara.com Pada masa-masa awal berdirinya Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya menghadapi tantangan besar yang mengancam kestabilan kerajaan. Arya Wiraraja, sosok yang berjasa dalam menyelamatkan Raden Wijaya dari hukuman pancung oleh Jayakatwang, kini menuntut agar Kerajaan Majapahit dibelah dua. Tuntutan ini muncul karena Arya Wiraraja merasa berhak atas wilayah kekuasaan yang dijanjikan oleh Raden Wijaya ketika mereka sama-sama berjuang menggulingkan Kediri.
Arya Wiraraja dikenal sebagai sosok yang licik dan menghalalkan segala cara demi meraih kedudukan tinggi (Pararaton). Ia membantu Raden Wijaya bukan tanpa syarat, melainkan dengan harapan mendapatkan imbalan berupa kekuasaan atas wilayah yang didirikan. Bahkan, ia tidak segan mengorbankan anaknya sendiri, Ranggalawe, sebagai tumbal demi mempercepat ambisinya.
Ketika putranya memberontak dan kemudian terbunuh, Arya Wiraraja dengan muka memelas menuntut haknya atas wilayah kekuasaan Majapahit. Raden Wijaya, yang terikat oleh janji dan jasa Arya Wiraraja, akhirnya memenuhi tuntutan tersebut dan membelah Majapahit menjadi dua. Arya Wiraraja pun menjadi raja di wilayah kekuasaan yang baru, dengan kekuasaan yang hampir setara dengan Raden Wijaya.
Pembelahan Majapahit menjadi dua ini memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan kerajaan di masa depan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ambisi dan kepentingan pribadi dapat mempengaruhi jalannya sejarah dan kestabilan sebuah kerajaan.
Menurut catatan sejarah, pembelahan Majapahit menjadi dua ini merupakan salah satu contoh bagaimana ambisi dan kepentingan pribadi dapat mengancam kestabilan sebuah kerajaan (Negarakertagama, Mpu Prapanca). Oleh karena itu, penting bagi para pemimpin untuk mempertimbangkan dampak dari keputusan mereka terhadap kestabilan dan keamanan kerajaan.
Sumber:
– Negarakertagama, Mpu Prapanca
– Pararaton













