Lelaki yang Memilih Peta daripada Tahta

File 000000009d787208a784bd46f2f543fd
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Lelaki yang Memilih Peta daripada Tahta

Pelitanusantara.com Seandainya ia memilih tinggal, namanya mungkin terukir di gedung-gedung megah Toronto. Ia bisa saja menjadi penerus kerajaan media milik ayahnya, duduk di lingkaran elite politik Kanada, menikmati kekayaan dan prestise yang telah dipersiapkan sejak lahir. Semua pintu terbuka baginya.

Namun sejarah justru mengenalnya dari tempat yang jauh dari kemewahan itu—di lorong-lorong kota Tiongkok Selatan, di pelabuhan Makassar, di pedalaman Vietnam, hingga di gubuk bambu kamp tawanan perang di Sulawesi.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Robert Alexander Jaffray adalah paradoks sejarah: nyaris tak dikenal di tanah kelahirannya, tetapi dihormati di Asia sebagai perintis, guru Alkitab, ahli strategi misi, dan “pria peta”—seorang hamba Tuhan yang setiap hari membentangkan peta dunia dan berdoa bagi bangsa-bangsa yang belum mengenal Kristus.

Dari Warisan Kekayaan ke Warisan Kekekalan

Lahir pada 16 Desember 1873 di keluarga terpandang di Toronto, Jaffray telah dipersiapkan untuk mewarisi pengaruh besar. Ayahnya adalah senator dan pengusaha surat kabar terkemuka. Masa depan Rob muda seolah sudah ditentukan.

Namun pada usia 16 tahun, ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus di bawah pengajaran A.B. Simpson. Api misi mulai menyala. Dan sejak saat itu, arah hidupnya berubah total.

Ketika ia menyatakan keinginannya menjadi misionaris, sang ayah memberikan ultimatum: jika ia tetap pergi, ia tidak akan menerima warisan apa pun. Bahkan biaya keberangkatannya tidak akan ditanggung.

Rob memilih pergi.

Ia membiayai pendidikannya sendiri, lalu pada tahun 1897 berangkat ke Wuchow (Wuzhou), Tiongkok Selatan. Di sanalah 35 tahun hidupnya dicurahkan.

Membangun, Bukan Sekadar Berkhotbah

Di Tiongkok, Jaffray belajar bahasa Tionghoa hingga fasih. Ia tidak datang sebagai penjajah rohani, melainkan sebagai pelayan yang membangun fondasi. Ia mendirikan sekolah Alkitab, melatih pemimpin lokal, dan membangun percetakan South China Alliance Press untuk menerbitkan literatur rohani dalam bahasa setempat.

Ia memahami bahwa misi bukan sekadar penginjilan sesaat, melainkan pembangunan jangka panjang.

Dari Tiongkok, visinya meluas ke Vietnam pada 1911. Gereja-gereja Alliance bertumbuh pesat di sana. Ratusan pelayan Tuhan lahir dari benih yang ia tanam. Hingga kini, gereja Injili di Vietnam tetap menjadi salah satu warisan terbesarnya.

Jejak di Indonesia

Pada akhir 1920-an, pandangannya tertuju ke Hindia Belanda—Indonesia. Setelah eksplorasi Kalimantan, ia mendirikan basis pelayanan di Makassar pada 1931. Pola yang sama diterapkan: sekolah Alkitab, pelatihan pemimpin, dan percetakan.

Pelayanan penerbitan itu berkembang menjadi Kalam Hidup di Bandung—yang hingga kini dikenal luas sebagai penerbit Kristen besar di Indonesia.

Dalam waktu satu dekade, misionaris dari Amerika Utara dan Tiongkok bekerja bersama orang percaya Indonesia menjangkau berbagai pulau di Nusantara. Apa yang ia bangun bukan sekadar institusi, melainkan gerakan.

Kesetiaan hingga Akhir

Pada 1938, di usia 65 tahun, ia kembali ke Kanada untuk cuti. Banyak yang mendesaknya untuk tidak kembali ke Asia karena ancaman perang. Ia sudah cukup berbuat banyak. Ia berhak menikmati masa pensiun.

Namun ia berkata, “Saya ingin mati di Timur Jauh, tempat seluruh hidup saya dicurahkan.”

Ia kembali ke Makassar.

Ketika Jepang menginvasi pada 1941, ia dipenjara di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Dalam kondisi kelaparan, tanpa obat untuk diabetesnya, dan diserang disentri, tubuhnya melemah.

Pada 29 Juli 1945, hanya beberapa minggu sebelum perang berakhir, Robert Alexander Jaffray meninggal dunia dalam kamp tawanan.

Ia tidak mati di rumah mewah.
Ia tidak dikelilingi kekayaan.
Ia mati sebagai hamba yang setia.

Warisan yang Hidup

Hari ini, gereja-gereja di Indonesia, Vietnam, Kamboja, dan Tiongkok terus bertumbuh. Sekolah, seminari, dan pelayanan literatur yang ia rintis tetap berdampak lintas generasi.

Jaffray menolak warisan dunia, tetapi ia menerima warisan kekekalan.
Ia menolak tahta, tetapi memilih peta.
Ia melepaskan keamanan, tetapi meraih dampak global.

Kisahnya menantang generasi hari ini:
apakah kita sedang membangun kenyamanan, atau membangun generasi?
apakah kita mengejar nama, atau meninggalkan jejak iman?

Robert Alexander Jaffray membuktikan bahwa satu kehidupan yang sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan dapat mengubah sejarah bangsa-bangsa.

Dan mungkin, di tengah dunia yang sibuk mengejar kekuasaan, kita membutuhkan lebih banyak “pria peta”—
mereka yang berani berkata,
“Di mana Engkau mengutus, di sana aku akan pergi.”

______

Keterangan Foto menggunakan ilustrasi gambar teknologi AI