Pelitanusantara.com Di balik gemerlap Kota Kembang, tersembunyi kisah yang lebih berharga dari intan permata: keberanian para perempuan Laskar Wanita Indonesia (LASWI). Mereka bukan sekadar figuran dalam buku sejarah, melainkan pahlawan sejati yang mengukir kemerdekaan dengan darah, air mata, dan semangat yang membara.
Oktober 1945. Bandung, kota yang dulu tenang, kini bergejolak oleh semangat revolusi. Di tengah kobaran api perjuangan, muncul sosok Sumarsih Subiati, seorang ibu rumah tangga yang memiliki visi jauh ke depan. Ia melihat potensi tersembunyi dalam diri para perempuan Bandung. Maka, lahirlah LASWI pada 12 Oktober 1945, sebuah wadah yang mengubah para perempuan biasa menjadi “maung bikang” (harimau betina) yang siap menerkam penjajah.
Bayangkan: para perempuan yang sehari-hari berkutat dengan urusan dapur, kini memanggul senapan dan mempelajari taktik perang. Dari kebaya, mereka beralih ke seragam militer. Transformasi ini bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan spiritual. Mereka menemukan kekuatan yang tak pernah mereka sadari sebelumnya.
Kisah Susilawati adalah legenda yang membuat bulu kuduk berdiri. Jenderal Abdul Haris Nasution, dalam “Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1: Kenangan Masa Muda,” mengisahkan bagaimana Susilawati, dengan keberanian yang melampaui batas, memenggal kepala seorang perwira Gurkha, tentara bayaran yang terkenal kejam dan ditakuti. Kepala itu, dengan darah yang masih segar, dipersembahkan langsung kepada Nasution. Pesan yang ingin disampaikan jelas: jangan pernah meremehkan kekuatan perempuan Indonesia!
Willy Sukirman, sang “tukang penggal,” adalah sosok yang menyimpan misteri dan kekuatan yang luar biasa. Dalam buku “Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan,” diceritakan bagaimana Willy, dalam kondisi “trance” atau kesurupan, mampu melumpuhkan dan memenggal kepala tentara Gurkha dengan gerakan secepat kilat. Konon, tatapannya begitu membara hingga membuat musuh gemetar ketakutan. Kisahnya adalah perpaduan antara keberanian, kekuatan mistis, dan semangat juang yang tak kenal ampun.
Tuti Amir Kartabrata adalah potret remaja yang tumbuh di tengah revolusi. Di usia 15 tahun, ia telah memilih jalan perjuangan. Dengan “granat mangga” di sakunya, ia meyakinkan orang tuanya untuk mengizinkannya bergabung dengan LASWI. Tuti adalah simbol harapan, bahwa kemerdekaan adalah mimpi yang layak diperjuangkan, bahkan dengan nyawa sekalipun. Kisahnya menyentuh hati dan membuktikan bahwa usia bukanlah halangan untuk berbakti pada negara.
LASWI bukan hanya organisasi militer, tetapi juga keluarga. Di sana, para perempuan saling mendukung, menguatkan, dan berbagi suka duka. Mereka merawat yang sakit, menghibur yang sedih, dan menyemangati yang putus asa. Kebersamaan ini menjadi sumber kekuatan yang tak ternilai harganya.
Monumen LASWI, yang berdiri kokoh di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung, bukan sekadar tumpukan batu. Ia adalah representasi jiwa para perempuan LASWI yang tak pernah padam. Setiap kali kita melihat patung serdadu perempuan dengan senapan di tangan, kita diingatkan akan keberanian, pengorbanan, dan cinta mereka pada tanah air.
Kisah LASWI adalah warisan berharga bagi kita semua. Mereka adalah bukti bahwa perempuan memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengubah dunia. Mari kita teruskan semangat mereka dalam membangun Indonesia yang lebih baik, adil, dan sejahtera. Jangan pernah lupakan jasa para Srikandi Bandung yang telah mengukir sejarah dengan darah dan air mata.
(*)













