Kali ini, bumi Sumatera tidak bernyanyi—
dia meneriakkan kesakitan yang terpendam lama.
Gelisah… gelisah… tulang bumi retak,
dan segala yang kita cintai hancur dalam sekejap.
Lihatlah, rumah yang dulu penuh tawa—
sekarang hanya puing yang menahan nafas.
Anak yang kemarin bermain di halaman,
sekarang mencari bayangan orang tuanya di antara puing.
Air pasang tinggi datang seperti malaikat maut,
menelan jalan, menelan harapan.
Ibu menangis memeluk bantal yang kosong,
ingat anak yang terlepas di derasnya arus.
Di bukit yang dulu hijau, abu gunung menutupi langit—
tidak ada matahari, tidak ada harapan yang terlihat.
Orang-orang berjalan tanpa arah,
makanan habis, air habis, hati hanya penuh luka.
Tetapi dengarlah—suara tangisan itu tidak sendirian.
Ada tangis yang sama di ujung pulau,
tangis yang menyatukan jiwa,
tangis yang membuat kita berpegangan erat, walau segala sesuatu hancur.
Sumatera, tanah yang kita cintai—
kau tidak sendirian dalam kesedihanmu.
Setiap tetesan air mata yang jatuh,
adalah janji kita akan bangkit bersama, meskipun hati masih terluka.
By Romo Kefas













