Jakarta — Kondisi aktivis HAM Andrie Yunus pasca serangan penyiraman air keras masih membutuhkan perawatan intensif. Hingga saat ini, ia masih dirawat di ruang High Care Unit (HCU) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Dimas Bagus Arya, mengungkapkan bahwa kondisi Andrie belum memungkinkan untuk berkomunikasi secara normal, bahkan dengan keluarga terdekatnya.
“Saat ini Andrie masih dalam perawatan HCU, sehingga belum bisa melakukan komunikasi secara reguler, termasuk dengan keluarga,” ujar Dimas dalam konferensi pers di Jakarta Pusat.
Kondisi Stabil, Namun Luka Mata Kanan Tergolong Parah
Meski demikian, pihak rumah sakit menyatakan kondisi umum Andrie dalam keadaan stabil. Luka bakar akibat serangan tersebut mencapai sekitar 20 persen pada bagian tubuh sebelah kanan, dan telah mendapatkan penanganan medis.
Namun, perhatian utama tertuju pada cedera serius di mata kanan, yang mengalami trauma akibat cairan asam dengan tingkat kerusakan skala 3 dari 4.
“Ini termasuk kategori luka yang cukup parah dan membutuhkan penanganan khusus,” jelas Dimas.
Tindakan Cepat: Operasi Stem Cell Demi Menyelamatkan Penglihatan
Sebagai langkah penyelamatan, tim medis RSCM telah melakukan prosedur operasi stem cell, yaitu pemindahan jaringan dari mata kiri ke mata kanan.
Tindakan ini dilakukan sebagai respons cepat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan meningkatkan peluang pemulihan fungsi penglihatan.
“Ini adalah upaya awal agar proses penyembuhan mata bisa berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Harapan Masih Ada, Namun Risiko Penurunan Fungsi Mengintai
Kabar yang sedikit melegakan, mata Andrie masih memiliki fungsi penglihatan dan tidak mengalami kebutaan permanen. Namun demikian, risiko penurunan fungsi tetap menjadi kekhawatiran serius.
“Yang dikhawatirkan adalah fungsi mata tidak bisa kembali 100 persen, sehingga kemungkinan ada penurunan kualitas penglihatan,” tambah Dimas.
Lebih dari Sekadar Luka Fisik
Kasus ini tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga menjadi pengingat keras tentang risiko yang dihadapi para pembela hak asasi manusia di Indonesia.
Di tengah proses pemulihan Andrie, publik kini tidak hanya menaruh perhatian pada kondisi kesehatannya, tetapi juga pada komitmen penegakan hukum dan perlindungan terhadap aktivis yang memperjuangkan keadilan.
(Pasukan Ghoib/Sumber: Kompas.com)













