Klik, Deadline, dan Harga Kejujuran

1768320909206
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Klik, Deadline, dan Harga Kejujuran

Alfian belajar satu hal sejak menjadi jurnalis media online:
berita tidak pernah menunggu orang siap.

Pukul empat subuh, ponselnya sudah bergetar. Notifikasi grup redaksi masuk beruntun—kecelakaan, isu korupsi kecil di daerah, dan pesan editor yang singkat tapi tegas:
“Alf, siap gerak?”

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Ia mengusap wajahnya. Mata masih berat, tapi hati sudah berlari. Alfian bangkit, menyalakan motor tua, dan meninggalkan rumah saat kota masih setengah terjaga. Di ranselnya hanya ada laptop, kamera saku, buku catatan, dan idealisme yang mulai sering diuji.

Di lapangan, Alfian bertemu realita.
Warga yang marah minta suaranya diangkat.
Pejabat yang bicara berputar-putar.
Narasumber yang minta kalimatnya “diperhalus”.

“Mas, tolong ya… jangan terlalu tajam,” kata seorang pejabat sambil tersenyum.

Alfian tersenyum balik. Ia mencatat. Ia merekam. Ia tahu, satu kata bisa mengubah makna. Dan satu kompromi kecil bisa jadi kebiasaan besar.

Siang hari, beritanya tayang. Judulnya sederhana tapi jujur. Dalam hitungan menit, komentar bermunculan.
Ada yang berterima kasih.
Ada yang menuduhnya cari sensasi.
Ada yang mengancam melapor.

Alfian menutup layar sebentar. Kopinya sudah dingin. Gajinya bulan ini belum jelas. Ibunya sempat bertanya semalam, “Kapan cari kerja yang pasti?”
Ia tidak menjawab.

Sore menjelang, konflik datang lebih keras. Seorang narasumber menelepon, nadanya tinggi. Editor mengingatkan soal trafik.
“Beritanya rame, Alf. Tapi hati-hati.”

Di situlah Alfian diuji.
Menulis ulang agar aman—atau tetap jujur meski risikonya panjang.

Ia memilih satu hal yang membuatnya masih bisa tidur nyenyak.

Malam turun. Berita terakhir naik. Alfian duduk di warung kopi pinggir jalan, menatap layar dengan mata lelah. Di sekelilingnya, orang tertawa, scroll media sosial, membagikan berita—termasuk beritanya.

Tak ada tepuk tangan. Tak ada panggung.
Hanya rasa lega.

Sebelum pulang, Alfian menulis catatan kecil di ponselnya:

“Menjadi jurnalis bukan soal cepat tayang,
tapi tentang berani berdiri di belakang apa yang ditulis.”

Ia tahu besok subuh ponselnya akan bergetar lagi.
Deadline tak pernah tidur.
Tapi selama kebenaran masih butuh suara,
Alfian akan tetap bangun.