Kita Berpisah, Saat Cinta Masih Bernapas

Kefaspelita
File 00000000bdb87207aa833fd9d3f88552
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Kita Berpisah, Saat Cinta Masih Bernapas

Hujan turun tanpa jeda malam itu, seperti ingin menghapus jejak langkah yang sebentar lagi akan berpisah. Imas Jamilah duduk sendirian di tepi ranjang, menatap lantai yang dingin. Ponselnya tergeletak di samping, layar gelap—tak ada pesan, tak ada panggilan. Ia tahu, malam ini bukan tentang menunggu. Malam ini tentang kehilangan.

Kirno datang terlambat.
Bukan terlambat oleh waktu, melainkan oleh keberanian.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Ia berdiri di ambang pintu, menatap Imas dengan wajah yang menyimpan kelelahan panjang. Tatapan itu membuat dada Imas runtuh seketika. Ia sudah mengenali tanda itu—tatapan orang yang ingin pergi, tapi masih terikat oleh rasa bersalah.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Kirno, suara yang dulu selalu menenangkan.

Imas tersenyum tipis. “Kalau aku bilang tidak, apa kamu akan tinggal?”

Kirno terdiam. Hening menjalar, lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Imas berdiri. Tangannya gemetar saat merapikan rambut yang sebenarnya tak perlu dirapikan. Ia mencoba tegar, padahal di dalam dirinya, ada sesuatu yang perlahan retak—retak yang tak akan bisa disatukan kembali.

“Aku lelah, Mas,” ujar Kirno akhirnya. “Bukan karena kamu. Karena semuanya.”

Kalimat itu jatuh seperti pisau. Imas memejamkan mata, menahan air yang memaksa turun. Ia ingin berteriak, ingin berkata bahwa ia juga lelah—lelah menunggu, lelah berharap sendirian, lelah menjadi orang yang selalu mengerti.

“Aku masih di sini,” kata Imas lirih. “Aku tidak pernah pergi.”

Kirno menunduk. “Justru itu yang membuatku merasa bersalah.”

Hujan di luar semakin deras. Setiap tetesnya seperti menghitung sisa-sisa waktu mereka. Imas mendekat, bukan untuk memohon, tapi untuk memastikan satu hal terakhir—bahwa cinta ini pernah nyata.

Ia menatap Kirno lama, mencoba menghafal wajah yang sebentar lagi hanya akan hidup di ingatan. “Kalau kamu pergi sekarang,” katanya pelan, “aku tidak akan menyusul. Tapi jangan bilang aku kurang berjuang.”

Kirno mengangkat wajahnya. Matanya basah, namun keputusannya kering.

“Aku minta maaf,” ucapnya.

Dua kata itu mengakhiri segalanya.

Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman perpisahan. Hanya jarak yang tiba-tiba terasa asing, meski mereka berdiri begitu dekat. Kirno melangkah mundur, membuka pintu perlahan, lalu pergi tanpa menoleh.

Pintu tertutup.

Dan Imas jatuh.

Ia terduduk di lantai, memeluk lututnya, menangis tanpa suara. Tangis yang tidak meminta dikasihani. Tangis orang yang tahu ia baru saja kehilangan separuh hidupnya. Malam itu, Imas tidak berdoa agar Kirno kembali. Ia hanya memohon agar hatinya cukup kuat untuk bertahan.

Hari-hari setelahnya berjalan seperti kabut. Imas bangun tanpa pesan, tidur tanpa suara yang dulu menemaninya. Ia tersenyum pada orang lain, namun menangis pada dirinya sendiri. Tempat-tempat yang pernah mereka datangi berubah menjadi perangkap kenangan.

Beberapa bulan kemudian, hujan kembali turun. Imas berdiri di dekat jendela, sendirian. Ia tidak lagi menunggu siapa pun. Luka di dadanya belum sembuh, hanya mengeras menjadi bekas.

Ia akhirnya mengerti:
Ada cinta yang tidak mati karena dibenci,
melainkan karena terlalu lama diperjuangkan sendirian.

Dan pada malam hujan itu, Imas Jamilah belajar hidup dengan satu kenyataan paling menyakitkan—
bahwa cinta terbesar dalam hidupnya tidak berakhir bahagia,
namun tetap akan ia simpan,
karena pernah membuatnya percaya pada cinta.