“Kerinduan yang Tetap Tinggal, Meski Hidup Terus Berjalan”
Pelitanusantara.com – Ada rindu yang tidak pernah selesai, hanya berubah bentuk seiring waktu.
Rindu yang tidak hilang meskipun hidup terus memaksaku melangkah maju.
Sejak 10 Januari 2023, hari ketika Mama pergi, ada bagian dalam diriku yang terasa ikut berhenti—diam di satu titik kenangan yang tidak pernah mampu kulewati sepenuhnya.
Sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, aku terbiasa berdiri di depan. Aku terbiasa menjadi tempat bersandar bagi adik-adikku. Dunia mengajarkanku bahwa anak sulung harus kuat, harus menjadi teladan, harus menjadi penyangga keluarga. Dan aku berusaha menjalani semua itu… meski di dalam hati, aku tetap anak yang merindukan ibunya.
Kini hidupku telah berjalan lebih jauh.
Aku telah memiliki keluarga.
Aku memiliki seorang anak yang perlahan memasuki masa dewasa—masa di mana ia mulai mencari arah hidupnya sendiri, masa di mana ia membutuhkan pegangan, bimbingan, dan kasih yang utuh.
Sering kali, ketika aku menatap anakku, aku melihat bayangan Mama di sana. Aku mulai mengerti betapa besarnya cinta seorang orang tua. Aku mulai memahami betapa Mama dulu menyimpan begitu banyak kekhawatiran yang tidak pernah ia ceritakan. Aku mulai merasakan bagaimana hati seorang ibu atau orang tua bisa mencintai tanpa syarat, bahkan ketika anaknya tidak sempurna.
Dan justru di situlah kerinduan itu semakin dalam.
Ada banyak momen ketika aku ingin sekali bertanya kepada Mama—bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik, bagaimana caranya tetap kuat ketika hidup terasa berat, bagaimana caranya memikul tanggung jawab tanpa kehilangan kelembutan hati.
Aku sering berharap Mama masih ada, duduk di ruang keluarga, menatap cucunya dengan senyum bangga. Aku ingin melihat Mama berbicara dengannya, memberi nasihat sederhana yang penuh makna. Aku ingin mendengar Mama tertawa lagi… suara yang dulu selalu menjadi penenang dalam rumah kami.
Kadang aku berdiri di tengah kehidupan yang terlihat lengkap—memiliki keluarga, memiliki tanggung jawab, memiliki perjalanan hidup yang terus berjalan—namun tetap ada ruang kosong yang tidak pernah bisa diisi. Ruang itu bernama Mama.
Sebagai anak sulung, aku berusaha menjaga keluarga besar kami. Sebagai ayah, aku berusaha menjadi teladan bagi anakku. Namun ada saat-saat ketika aku merasa lelah… sangat lelah. Pada saat-saat seperti itu, yang paling aku rindukan bukan nasihat panjang, bukan jawaban atas persoalan hidup, melainkan pelukan sederhana dari Mama yang dulu selalu mengatakan bahwa aku tidak sendirian.
Kerinduan ini tidak membuatku lemah.
Kerinduan ini justru mengingatkanku bahwa aku pernah dicintai begitu dalam.
Kerinduan ini membuatku ingin menjadi ayah yang lebih baik, suami yang lebih sabar, dan kakak yang lebih bertanggung jawab—seperti Mama dulu menjadi pusat kekuatan bagi keluarga kami.
Mama…
Jika suatu hari nanti Tuhan mengizinkan kita bertemu kembali, aku hanya ingin mengatakan bahwa cintamu tidak pernah hilang. Ia tumbuh dalam hidupku. Ia hidup dalam cara aku membesarkan anakku. Ia berjalan dalam setiap doa yang kupanjatkan.
Walaupun kini aku telah memiliki keluarga sendiri, dan anakku perlahan menuju kedewasaan, di dalam hatiku aku tetap anak Mama—anak sulung yang masih merindukan sentuhan tanganmu, masih ingin mendengar suaramu, dan masih berharap suatu hari nanti bisa berjumpa lagi.
Sampai waktu itu tiba, aku akan terus melangkah dengan membawa rindu ini sebagai kekuatan.
Karena cinta seorang ibu tidak pernah berakhir.
Ia hanya berpindah… dari pelukan yang terlihat, menjadi pelukan yang tinggal di dalam jiwa.













