Jakarta, 29 Oktober 2025 – Jak Lingko 14, trayek Tanah Abang-Meruya yang seharusnya menjadi oase bagi pekerja Jakarta, kini berubah menjadi arena battle royale setiap sore. Gratis memang gratis, tapi antrean menggila di jam sibuk membuat para penumpang gigit jari, bahkan meradang!
Jak Lingko 14 awalnya disambut bak pahlawan oleh pekerja berpenghasilan pas-pasan. Dengan tarif nol rupiah, uang yang dulunya ludes untuk ongkos kini bisa dialokasikan untuk kebutuhan mendesak.
“Dulu mau jajan aja mikir-mikir, sekarang lumayan lah bisa nabung buat bayar kontrakan,” ungkap Mbak Yuni, seorang penjual makanan di kawasan Tanah Abang.
Namun, secercah harapan itu kini tertutup oleh awan kelabu bernama ANTREAN. Setiap sore, antara pukul 17.00 hingga 19.00, halte-halte Jak Lingko 14 berubah menjadi neraka. Penumpang berdesakan, saling sikut, bahkan nyaris adu jotos demi bisa naik bus.
“Ini bukan antre lagi, Mas, tapi perang! Udah kayak ikan teri di dalam kaleng! Badan remuk redam, emosi juga ikut terkuras,” gerutu Mas Ari, seorang kurir yang setiap hari mengandalkan Jak Lingko 14.
Berdasarkan investigasi di lapangan, biang kerok dari antrean mengerikan ini adalah membludaknya penumpang yang hendak menuju Stasiun Tanah Abang untuk melanjutkan perjalanan ke Jabodetabek menggunakan KRL. Jak Lingko 14 menjadi jembatan emas karena gratis dan langsung terhubung dengan stasiun.
Melihat kondisi darurat ini, solusi super kilat yang harus segera dieksekusi adalah penambahan armada Jak Lingko 14 secara signifikan di jam-jam sibuk. Jangan tanggung-tanggung! Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus bertindak cepat dan tegas sebelum Jakarta benar-benar lumpuh akibat antrean horor ini!
Jak Lingko adalah program transportasi publik yang sangat potensial. Jangan biarkan program yang seharusnya menjadi berkah ini berubah menjadi bencana akibat ketidakbecusan dalam pengelolaan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, jangan tidur! Segera atasi masalah antrean mengerikan ini demi kenyamanan dan kesejahteraan warga Jakarta! Ingat, “Waktu adalah uang”! Jangan sampai waktu berharga para pekerja Jakarta terbuang percuma hanya untuk berjibaku dalam antrean tak berujung!
[Laporan oleh Briston Tamba, Jurnalis Warga]













