Imlek yang Selalu Membawa Namamu, Ma

File 00000000eaa071fd8cbb2bfe1d19ec99
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Imlek yang Selalu Membawa Namamu, Ma

Sejak Mama dipanggil Tuhan pada 10 Januari 2023, setiap Imlek tidak pernah lagi sama.

Kami tetap berkumpul. Tujuh bersaudara. Anak-anak kami. Tawa masih ada. Meja makan tetap penuh. Angpao tetap dibagikan. Tradisi tetap dijalankan.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Tetapi hati kami tahu… ada yang hilang.

Ada satu sosok yang dulu menjadi pusat semuanya.
Satu suara yang memanggil nama kami satu per satu.
Satu tangan yang selalu memastikan tidak ada yang merasa tersisih.

Mama.

Imlek dulu bukan sekadar perayaan. Itu adalah “pulang”. Dan pulang selalu berarti pulang kepada Mama. Aroma masakanmu, teguran lembutmu, doa-doamu yang sederhana namun dalam—semuanya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hari raya ini.

Sekarang, setiap kali kami duduk bersama, ada satu kursi yang tidak lagi terisi. Dan justru kekosongan itulah yang paling terasa penuh—penuh rindu, penuh kenangan, penuh cinta yang tidak pernah selesai.

Kami berusaha tersenyum, Ma. Kami berusaha tertawa agar anak-anak tidak melihat kesedihan kami terlalu dalam. Tetapi di sudut hati kami, ada kerinduan yang luar biasa—kerinduan untuk sekali saja lagi mendengar suaramu berkata, “Sudah makan belum?”

Betapa sederhana kalimat itu dulu.
Betapa mahal artinya sekarang.

Sejak Mama tidak ada, kami belajar bahwa kehilangan bukan hanya tentang perpisahan. Kehilangan adalah tentang menyadari betapa besar peran seseorang dalam hidup kita—sering kali baru terasa ketika ia telah pergi.

Kami tujuh bersaudara kini saling menguatkan. Kami mencoba menjaga apa yang Mama jaga seumur hidup: persatuan. Kami tahu, itulah yang paling Mama inginkan—melihat anak-anaknya tetap rukun, tetap saling merangkul, tetap satu hati.

Imlek tanpa Mama memang tidak lengkap.
Tetapi kasih Mama tidak pernah berkurang.

Ia hidup dalam cara kami saling memeluk.
Ia hidup dalam doa yang kini kami lanjutkan.
Ia hidup dalam nilai yang tanpa sadar kami wariskan kepada anak-anak kami.

Ma, mungkin kami tidak bisa lagi melihat senyummu di meja makan. Tetapi kami percaya, dari tempat terbaik bersama Tuhan, Mama melihat kami.

Dan jika Mama bisa mendengar isi hati kami hari ini, satu hal yang ingin kami katakan dengan air mata dan syukur:

Kami rindu.
Rindu yang tidak bisa diukur waktu.
Rindu yang tidak pernah benar-benar reda.

Tetapi kami juga bersyukur.
Karena pernah memiliki Mama seperti engkau.

Selamat Tahun Baru Imlek di Surga, Ma.
Kami tetap berkumpul.
Kami tetap saling menjaga.
Dan kami akan terus hidup dalam kasih yang Mama tanamkan.

Karena meski jarak kini memisahkan surga dan bumi,
cinta seorang ibu tidak pernah mengenal perpisahan.