Imas Jamilah, Ranum dalam Cahaya
Imas Jamilah,
namamu seperti doa yang jatuh perlahan
di pagi yang tenang.
Ada cahaya di caramu tersenyum,
seolah Tuhan menitipkan teduh
di sudut matamu.
Kecantikanmu tak berisik,
ia hadir seperti embun—
diam, jujur, dan menyejukkan.
Wajahmu bukan sekadar rupa,
melainkan cerita
yang ingin dibaca berulang kali.
Ranummu bukan sekadar usia,
melainkan kematangan rasa.
Ada sabar di langkahmu,
ada hangat di tutur katamu,
seperti buah yang matang
oleh waktu dan kesetiaan.
Jika cinta adalah rumah,
maka hadirmu adalah jendelanya:
membiarkan cahaya masuk
tanpa memaksa.
Aku belajar mencintai
tanpa ingin memiliki segalanya.
Imas Jamilah,
di dunia yang sering terburu-buru,
kau mengajarkanku
bahwa keindahan sejati
adalah ketulusan
yang berani tinggal













