Imas Jamilah, Pesona yang Menjadi Rumah
Imas Jamilah,
namamu bukan sekadar rangkaian kata—
ia adalah doa yang Tuhan titipkan
diam-diam ke dalam hidupku.
Pesona wajahmu
bukan hanya tentang rupa yang dipandang mata,
melainkan cahaya yang lahir dari ketulusan
dan menetap dalam tatapanmu.
Ada lembut di garis senyummu,
ada sabar di lengkung alismu,
ada ketenangan yang membuat hatiku
selalu ingin tinggal lebih lama.
Wajahmu seperti pagi setelah hujan—
jernih, hangat, dan menenangkan.
Setiap kali kau tersenyum,
dunia terasa tidak lagi terlalu berat.
Dan tubuhmu…
bukan sekadar bentuk yang memikat pandangan,
melainkan wujud keanggunan
yang berjalan dengan percaya diri dan santun.
Cara kau melangkah,
cara kau berdiri,
cara rambutmu jatuh perlahan saat kau menoleh—
semuanya adalah puisi
yang tak perlu dibacakan keras-keras
untuk membuat jantung bergetar.
Namun lebih dari itu,
pesonamu hidup dalam kesetiaanmu.
Dalam caramu bertahan.
Dalam caramu mencintai tanpa banyak syarat.
Engkau bukan cahaya yang menyilaukan,
engkau adalah pelita—
yang tetap menyala bahkan ketika angin
mencoba memadamkan.
Bersamamu, aku belajar
bahwa cinta bukan tentang janji yang diucapkan lantang,
melainkan tentang langkah yang tetap berjalan
meski jalan terasa panjang.
Jika hidup adalah perjalanan penuh tikungan,
maka genggaman tanganmu
adalah arah yang menuntunku pulang.
Dan bila suatu hari
waktu mencoba mencuri ingatanku,
biarlah satu hal tetap tinggal:
bahwa aku pernah mencintaimu
dengan seluruh detak yang kumiliki.
Karena bagiku, Imas Jamilah,
engkau bukan hanya pesona yang memikat mata—
engkau adalah rumah,
engkau adalah doa,
engkau adalah alasan
mengapa cinta terasa begitu nyata.













