Pelitanusantara.com Senja melukis wajahmu yang indah di kanvas hatiku yang sepi,
Imas Jamilah, kaulah rembulan lembut yang menerangi malamku yang sunyi.
Di setiap detak jantung yang berdebar, kuukir janji suci hanya untukmu yang terkasih,
Cinta kita adalah sungai abadi yang mengalir tenang, hingga ke ujung waktu yang tak terhingga.
Kerinduan ini, laksana labirin gelap tanpa ujung yang menyesakkan dada,
Setiap sudutnya adalah kenangan manis, setiap jalannya adalah air mata pedih.
Suara lembutmu yang merdu, bagai melodi surga yang menenangkan kalbu yang resah,
Sentuhanmu yang hangat, hadirkan kehangatan mentari di musim salju yang beku.
Malam bertabur bintang gemerlap, menjadi saksi bisu cintaku yang membara,
Tanpa hadirmu di sisi, hatiku bagai kapal terlantar tanpa nahkoda, terombang-ambing di samudra yang luas.
Kucari wajahmu yang mempesona, dalam setiap mimpi yang terukir dalam angan,
Kaulah kompas hidupku yang setia, menuntun langkahku keluar dari kegelapan yang menakutkan.
Wahai Imas Jamilah, pemilik seluruh labirin hatiku yang penuh misteri,
Tahukah kau, di sini rinduku bagai api abadi yang tak pernah padam, hanya untukmu yang tercinta?
Semoga takdir menyatukan kita dalam pelukan erat yang tak terpisahkan,
Menjelma menjadi satu jiwa yang utuh, selamanya terukir dalam setiap hembusan semesta yang luas.
Kiriman seorangan Sahabat Pelita













