Doa di Tengah Luka
Tuhan,
aku datang bukan dengan kekuatan,
melainkan dengan luka yang masih basah,
dengan nestapa yang belum sempat kupahami,
dan kepahitan yang lama kupendam
dalam diam.
Ada hari-hari
di mana hidup terasa terlalu berat,
doa hanya bergetar di bibir,
dan iman seperti nyala kecil
yang hampir padam
oleh angin kelelahan.
Aku lelah, Tuhan.
Bukan karena aku berhenti percaya,
tetapi karena aku terlalu lama bertahan.
Aku mengeluh,
aku marah,
aku mempertanyakan jalan-Mu,
dan aku tidak selalu mengerti
mengapa luka ini harus kujinjing sendiri.
Namun di tengah gelap yang kupijak,
aku tetap memanggil nama-Mu.
Bukan karena imanku sempurna,
melainkan karena Engkau
satu-satunya tempat
aku boleh jatuh
tanpa dihakimi.
Aku mengaku, Tuhan,
sering kali imanku pahit,
harapanku rapuh,
dan doaku lebih banyak tangis
daripada syukur.
Tetapi Engkau tetap setia
saat aku sendiri
nyaris menyerah.
Jika luka ini tidak Kauambil,
ajarlah aku hidup dengannya.
Jika nestapa ini belum Kauangkat,
kuatkanlah langkahku
agar aku tidak hancur olehnya.
Dan jika kepahitan ini
harus menjadi bagianku,
jadikanlah ia
jalan menuju kedewasaan iman.
Kini aku berhenti melawan.
Aku menyerahkan lelahku,
air mataku,
dan segala pertanyaanku
ke dalam tangan-Mu
yang setia.
Peganglah aku, Tuhan,
ketika aku tidak lagi sanggup berdiri.
Diamkanlah aku
di dalam damai-Mu.
Dan bila akhirnya
aku hanya mampu
bernapas perlahan,
aku percaya
Engkau tetap di sini.
Aku pasrah.
Aku percaya.
Aku berserah.
Lalu dalam tenang
yang Kau beri,
aku
menutup mata.
— Oleh: Romo Kefas













