Diskusi Interaktive ” De Laatste Sisingamangaraja (Raja Sisingamangaraja Terakhir) “

Hdevananda
Adfa
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Jakarta, Pelitanusantara.com | Sarasehan  dan Diskusi Interaktive dengan tema membangun identitas jati diri bangsa melalui sejarah  dengan judul De Laatste Sisingamangaraja “ atau Radja Sisingamangaraja  Terakhir yang digelar di Museum Nasional Auditorium Basement Gedung B Jl. Medan Merdeka Barat No.12 Gambir Jakarta Pusat. Jum’at 28 Februari 2020 yang diselenggarakan oleh Adventure Documentary Festival Academy (ADFA) bersama – sama dengan  Keluarga Pomparan Si Raja  Oloan dan keluarga Sisingamangaraja.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Adapun Acara Saresehan ini didukung oleh Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Museum  Nasional Indonesia. Dengan tujuan untuk mendukung persiapan riset dan collecting data tentang  Sisingamangaraja XII dari berbagai sumber, penerbitan buku, seminar, wisata sejarah, dan produksi film Sisingamangaraja XII

Acara ini merupakan komitmen awal untuk mempertahankan file-file sejarah  Sisingamangaraja dan peradaban tanah Batak yang tersebar di pelosok negeri, dikarenakan  Sisingamangaraja tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Batak saja, melainkan juga milik bangsa Indonesia, dan  banyak pengagumnya. Meskipun masih banyak pula masyarakat kita belum mengenali tokoh  pahlawan pejuang di tanah air. Misalkan Sisingamangaraja hanya dikenali melalui nama jalan maupun  uang seribu. Maka melalui sarasehan ini dimaksudkan pula untuk menghargai jasa-jasa perjuangan Sisingamangaraja XII bersama panglima – panglimanya yang gugur mempertahankan tanah Batak pada sessi pertama mengangkat topik Jejak Perjuangan dan  Kepahlawanan Raja Sisingamangaraja XII, keynote speaker Bridgen. TNI (Purn) Tarida Sinambela  sebagai Ketua Umum Pomparan Si Raja Oloan, dan para pembicara terdiri dari Prof. Nicolaus  Lumanauw, PhD. (Pembina ADFA), Raja Batu Parlindungan Sinambela (Cucu Sisingamangaraja XI),  Iman Sutan Baringin Situmorang (peminat kebudayaan, putra dari Sitor Situmorang), Dra. Dedah  Rufaedah Sri Handari, M.M (Pamong Budaya Madya Pelindungan Kebudayaan Kemendikbud), Agus Hariadi, S.H. M.Hum (Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kemenkumham).  Moderator Erick Brandie (Kompasiana) dan Nina Yusab (Pemerhati Kebudayaan).

Kekhawatiran  bangsa pada era milenial ini adalah bagaimana generasi kita dapat melawan musuh-musuh seperti  bahaya laten narkoba, sara, hoax, korupsi, maupun teknologi. Dahulu bangsa Indonesia  memperjuangkan kemerdekaan dengan melawan penjajah Belanda. Kini momok terbesar bangsa kita  adalah melawan pecandu dan pengedar narkoba. Seperti yang telah disampaikan oleh Agus Hariadi,  S.H. M.Hum (kemenkumham) bahwa “Generasi tua, muda, ibu, bapak, anak-anak, yang ada di  penjara 70% terkena kasus narkotika, hal ini dapat diperangi melalui semangat kepahlawanan  Sisingamangaraja” Sedangkan Brigjend TNI (Purn) Tarida Sinambela mengatakan “Di jaman milenial ini  keteladan Sisingamangaraja ada tiga disebut Pulas. Pertama, mengusir penjajah, kedua, melarang,  sombong, ketiga mengadakan negosiasi dengan raja-raja Batak. Nah pulas dalam jaman Milenial ini  apa? Berantas Korupsi, Hindari Narkoba, pelihara jangan ada SARA. Dengan nilai semangat juang  Sisingamangaraja mari kita terapkan” dan Dalam bidang  pariwisata pun Prof. Nicolaus Lumanauw, PhD.,yang sekaligus Pembina ADFA menyampaikan akan mendatangkan tour operator  berjumlah 135 orang untuk membuat track perjalanan Sisingamangaraja

Pada sesi kedua mengangkat topik Rencana Produksi Film “De Laatste Sisingamangaraja”, dengan  moderator DR. Rahajeng Widya SE. MM. CPC (Ahli Strategic Communication), dengan  menghadirkan para pembicara: Astryd Diana Savitri (Ketua ADFA), Captain Andi Pakpahan  (penggiat film), Haposan Bakara (researcher), Wilda Situngkir (Putri Indonesia Pariwisata), Adrianto Sinaga (sutradara & production designer cinema), Edmond Waworuntu (production designer cinema), Budi Suyanto, S.Sn., MSi (Kepala Trisakti Multimedia). Dari paparan Adrianto Sinaga dan Wilda  Situngkir, mereka memiliki pengalaman yang sama, bahwa masih ada masyarakat kita lebih  membanggakan kebudayaan negara lain dibanding negeri sendiri atau bahkan negara lain lebih mengenal hanya Bali. Maka dengan membuat film biopic mengenai sejarah kebudayaan  Sisingamangaraja, diharapkan publik lebih peduli dan mengenali budaya Batak, bila perlu film ini dapat dikemas nantinya dalam berbahasa Batak. Membuat film Sisingamangaraja XII tentunya membutuhkan tayangan hiburan yang menarik tanpa mengesampingkan kejujuran dan nilai-nilai luhur jati diri yang  ada pada tokoh tersebut. oleh karena itu  sebelum memulai  harus diperkuat riset dan survey terlebih dulu,  dengan mengumpulkan sumber data, membuat novel maupun ensiklopedinya terlebih dulu sebelum melangkah ke film dokumenter maupun layar lebar.

Acara Saresehan ini juga dihadiri oleh PT Balai Pustaka (Persero), Mitsubishi Pajero Club Indonesia, Kemenko  Maritim, Kemenpar, Mahasiswa Trisakti School of Multimedia, Akademi Televisi Indonesia, SMAN  90, SMKN 57, perusahaan pelayaran, sekolah pelayaran, sekolah penerbangan, beserta alumni sekolah pelayaran dan sekolah penerbangan, serta komunitas sejarah budaya. dan juga turut didukung  oleh MAKSIM (Masyarakat Sejahtera Indonesia Maju), serta di meriahkan dengan fashion dari designer Athan Siahaan yang  menampilkan mode ulos terbaiknya pada sesi hiburan peragaan busana.

Diharapkan  dengan sarasehan ini dapat menjadi pembelajaran sejarah yang didukung oleh seluruh  lapisan masyarakat Indonesia. Dan akan semakin banyak para kreator untuk memproduksi film biopic sejarah, maka  hal tersebut dapat membantu mensosialisasikan lebih luas kepada publik, dengan tetap harus bersumber  pada fakta yang akurat dengan bersumber pada data yang  terpercaya. Kelanjutan acara sarasehan “De Laatste  Sisingamangaraja” ini rencananya akan diadakan seminar dan bedah buku pada bulan April mendatang (Kefas)