Jakarta, Pelitanusantara.com | Sarasehan dan Diskusi Interaktive dengan tema membangun identitas jati diri bangsa melalui sejarah dengan judul “De Laatste Sisingamangaraja “ atau Radja Sisingamangaraja Terakhir yang digelar di Museum Nasional Auditorium Basement Gedung B Jl. Medan Merdeka Barat No.12 Gambir Jakarta Pusat. Jum’at 28 Februari 2020 yang diselenggarakan oleh Adventure Documentary Festival Academy (ADFA) bersama – sama dengan Keluarga Pomparan Si Raja Oloan dan keluarga Sisingamangaraja.
Adapun Acara Saresehan ini didukung oleh Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Museum Nasional Indonesia. Dengan tujuan untuk mendukung persiapan riset dan collecting data tentang Sisingamangaraja XII dari berbagai sumber, penerbitan buku, seminar, wisata sejarah, dan produksi film Sisingamangaraja XII
Acara ini merupakan komitmen awal untuk mempertahankan file-file sejarah Sisingamangaraja dan peradaban tanah Batak yang tersebar di pelosok negeri, dikarenakan Sisingamangaraja tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Batak saja, melainkan juga milik bangsa Indonesia, dan banyak pengagumnya. Meskipun masih banyak pula masyarakat kita belum mengenali tokoh pahlawan pejuang di tanah air. Misalkan Sisingamangaraja hanya dikenali melalui nama jalan maupun uang seribu. Maka melalui sarasehan ini dimaksudkan pula untuk menghargai jasa-jasa perjuangan Sisingamangaraja XII bersama panglima – panglimanya yang gugur mempertahankan tanah Batak pada sessi pertama mengangkat topik Jejak Perjuangan dan Kepahlawanan Raja Sisingamangaraja XII, keynote speaker Bridgen. TNI (Purn) Tarida Sinambela sebagai Ketua Umum Pomparan Si Raja Oloan, dan para pembicara terdiri dari Prof. Nicolaus Lumanauw, PhD. (Pembina ADFA), Raja Batu Parlindungan Sinambela (Cucu Sisingamangaraja XI), Iman Sutan Baringin Situmorang (peminat kebudayaan, putra dari Sitor Situmorang), Dra. Dedah Rufaedah Sri Handari, M.M (Pamong Budaya Madya Pelindungan Kebudayaan Kemendikbud), Agus Hariadi, S.H. M.Hum (Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kemenkumham). Moderator Erick Brandie (Kompasiana) dan Nina Yusab (Pemerhati Kebudayaan).
Kekhawatiran bangsa pada era milenial ini adalah bagaimana generasi kita dapat melawan musuh-musuh seperti bahaya laten narkoba, sara, hoax, korupsi, maupun teknologi. Dahulu bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaan dengan melawan penjajah Belanda. Kini momok terbesar bangsa kita adalah melawan pecandu dan pengedar narkoba. Seperti yang telah disampaikan oleh Agus Hariadi, S.H. M.Hum (kemenkumham) bahwa “Generasi tua, muda, ibu, bapak, anak-anak, yang ada di penjara 70% terkena kasus narkotika, hal ini dapat diperangi melalui semangat kepahlawanan Sisingamangaraja” Sedangkan Brigjend TNI (Purn) Tarida Sinambela mengatakan “Di jaman milenial ini keteladan Sisingamangaraja ada tiga disebut Pulas. Pertama, mengusir penjajah, kedua, melarang, sombong, ketiga mengadakan negosiasi dengan raja-raja Batak. Nah pulas dalam jaman Milenial ini apa? Berantas Korupsi, Hindari Narkoba, pelihara jangan ada SARA. Dengan nilai semangat juang Sisingamangaraja mari kita terapkan” dan Dalam bidang pariwisata pun Prof. Nicolaus Lumanauw, PhD.,yang sekaligus Pembina ADFA menyampaikan akan mendatangkan tour operator berjumlah 135 orang untuk membuat track perjalanan Sisingamangaraja
Pada sesi kedua mengangkat topik Rencana Produksi Film “De Laatste Sisingamangaraja”, dengan moderator DR. Rahajeng Widya SE. MM. CPC (Ahli Strategic Communication), dengan menghadirkan para pembicara: Astryd Diana Savitri (Ketua ADFA), Captain Andi Pakpahan (penggiat film), Haposan Bakara (researcher), Wilda Situngkir (Putri Indonesia Pariwisata), Adrianto Sinaga (sutradara & production designer cinema), Edmond Waworuntu (production designer cinema), Budi Suyanto, S.Sn., MSi (Kepala Trisakti Multimedia). Dari paparan Adrianto Sinaga dan Wilda Situngkir, mereka memiliki pengalaman yang sama, bahwa masih ada masyarakat kita lebih membanggakan kebudayaan negara lain dibanding negeri sendiri atau bahkan negara lain lebih mengenal hanya Bali. Maka dengan membuat film biopic mengenai sejarah kebudayaan Sisingamangaraja, diharapkan publik lebih peduli dan mengenali budaya Batak, bila perlu film ini dapat dikemas nantinya dalam berbahasa Batak. Membuat film Sisingamangaraja XII tentunya membutuhkan tayangan hiburan yang menarik tanpa mengesampingkan kejujuran dan nilai-nilai luhur jati diri yang ada pada tokoh tersebut. oleh karena itu sebelum memulai harus diperkuat riset dan survey terlebih dulu, dengan mengumpulkan sumber data, membuat novel maupun ensiklopedinya terlebih dulu sebelum melangkah ke film dokumenter maupun layar lebar.
Acara Saresehan ini juga dihadiri oleh PT Balai Pustaka (Persero), Mitsubishi Pajero Club Indonesia, Kemenko Maritim, Kemenpar, Mahasiswa Trisakti School of Multimedia, Akademi Televisi Indonesia, SMAN 90, SMKN 57, perusahaan pelayaran, sekolah pelayaran, sekolah penerbangan, beserta alumni sekolah pelayaran dan sekolah penerbangan, serta komunitas sejarah budaya. dan juga turut didukung oleh MAKSIM (Masyarakat Sejahtera Indonesia Maju), serta di meriahkan dengan fashion dari designer Athan Siahaan yang menampilkan mode ulos terbaiknya pada sesi hiburan peragaan busana.
Diharapkan dengan sarasehan ini dapat menjadi pembelajaran sejarah yang didukung oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dan akan semakin banyak para kreator untuk memproduksi film biopic sejarah, maka hal tersebut dapat membantu mensosialisasikan lebih luas kepada publik, dengan tetap harus bersumber pada fakta yang akurat dengan bersumber pada data yang terpercaya. Kelanjutan acara sarasehan “De Laatste Sisingamangaraja” ini rencananya akan diadakan seminar dan bedah buku pada bulan April mendatang (Kefas)













