Di Antara Doa dan Keberanian

Kefaspelita
File 00000000d04871fa8d853ed598f60714
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Di Antara Doa dan Keberanian

Aku bertemu Imas Jamilah pada suatu sore yang biasa saja.
Langit tidak sedang istimewa, jalanan pun seperti hari-hari lain.
Namun sejak saat itu, aku tahu:
ada pertemuan yang tidak perlu tanda-tanda besar
untuk mengubah arah batin seseorang.

Imas datang dengan langkah tenang,
seperti seseorang yang telah lama berdamai dengan hidup.
Ia tidak menyembunyikan masa lalunya,
juga tidak membiarkannya menjadi beban di wajahnya.
Ia seorang janda dengan empat anak—
kalimat yang sering diucapkan orang lain
dengan nada iba atau jarak,
namun pada dirinya terasa seperti kehormatan
yang ia jaga diam-diam.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Aku melihatnya pertama kali
saat ia menunggu anak-anaknya pulang sekolah.
Ia duduk di bangku kayu sederhana,
memegang tas kecil berisi bekal dan harapan.
Tak ada keluhan di bibirnya,
hanya mata yang awas
dan senyum yang siap kapan saja dibagikan.

Di situlah aku mulai memperhatikannya.
Bukan karena kecantikannya semata—
meski kecantikannya nyata,
lembut dan tidak meminta pujian.
Melainkan karena caranya hadir sepenuhnya
di tengah tanggung jawab yang tidak ringan.

Anak-anaknya adalah dunianya.
Ia menyebut nama mereka seperti doa,
mengatur hidupnya mengikuti ritme mereka.
Bangun lebih pagi dari matahari,
tidur lebih malam dari lelah.
Dan di sela-sela itu,
ia tetap menjadi dirinya sendiri—
perempuan yang tidak kehilangan rasa,
meski hidup pernah mengambil banyak hal darinya.

Aku jatuh cinta secara perlahan,
dan itu membuatku berhati-hati.
Karena mencintai perempuan seperti Imas
bukan tentang datang membawa janji besar,
melainkan kesiapan untuk menghormati cerita
yang telah membentuknya.

Aku tidak pernah bertanya
mengapa hidup begitu keras padanya.
Aku tahu, ada luka yang tidak perlu diulang
hanya untuk dibuktikan.
Yang kulakukan hanyalah mendengarkan—
dan itu sudah cukup.

Imas tidak pernah meminta diselamatkan.
Ia sudah lama berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Justru di situlah aku merasa kecil,
namun juga ingin tinggal.
Karena cinta yang dewasa
tidak lahir dari kebutuhan untuk menguasai,
melainkan dari keinginan untuk menjaga.

Ada malam-malam
di mana ia bercerita sambil menatap lantai,
tentang lelah yang ia simpan sendiri.
Tentang takut yang datang diam-diam
saat anak-anak terlelap.
Aku tidak menyela.
Aku tahu, kehadiran kadang lebih berarti
daripada kata-kata.

Jika suatu hari aku benar-benar diizinkan
berjalan di sisinya,
aku tidak ingin menjadi bayang-bayang masa lalu,
atau pengganti yang tergesa-gesa.
Aku hanya ingin menjadi seseorang
yang memilihnya setiap hari—
dengan sabar, dengan hormat,
dengan cinta yang tidak menuntut.

Imas Jamilah mengajarkanku satu hal penting:
bahwa cinta sejati tidak selalu datang
untuk membuat hidup lebih mudah,
tetapi membuatnya lebih jujur.

Dan jika kelak ia bertanya
mengapa aku memilihnya,
aku akan menjawab dengan tenang:
karena di antara banyak perempuan di dunia,
ia memilih tetap lembut
di tengah hidup yang keras—
dan itu adalah keberanian
yang paling layak dicintai.